Menteri Luar Negeri Iran mengatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk kapal komersial, tetapi kapal-kapal tersebut harus menggunakan jalur aman yang telah ditentukan.
Diketahui, Iran telah memblokir jalur pelayaran minyak utama itu sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Teheran pada 28 Februari lalu. Namun, karena gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, maka selat tersebut dibuka kembali.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran akan berlanjut hingga kesepakatan damai tercapai antara kedua negara.
Pengumuman oleh Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, disampaikan pada Jumat, 17 April 2026, hari pertama dari gencatan senjata.
Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata pada rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,”
kata Araghchi, dikutip BBC, Sabtu, 18 April 2026.
Menurut seorang pejabat militer senior Iran, jalur pelayaran kapal-kapal tersebut akan melalui jalur yang telah ditentukan dan bahwa jalur pelayaran kapal militer melalui Selat tersebut masih akan dilarang melintas.
Ini kemungkinan merujuk pada peta dan dua jalur yang ditentukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan telah banyak diberitakan oleh media Iran pekan lalu.
Kapal Pertamina Masih Terjebak di Selat Hormuz
Sementara itu, mengenai dua kapal PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro hingga saat ini masih tertahan di Selat Hormuz.
Saat dihubungi oleh Owrite, Pertamina mengatakan bahwa pihaknya masih terus mengusahakan dan berkoordinasi agar kapal-kapal RI itu lolos dari Selat Hormuz.
Perkembangan situasi di Selat Hormuz sangat dinamis dan bila terdapat info positif tentu bisa menjadi kelancaran jalur distribusi energi global. Namun demikian, implementasinya di lapangan masih memerlukan koordinasi dengan otoritas setempat, terkait jalur pelayaran dan aspek keselamatan serta prosedur pelayaran sesuai ketentuan yang berlaku,”
kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, pada Owrite.id saat dihubungi.
Meski demikian, Baron memastikan bahwa Pertamina hingga saat ini masih memantau perkembangan situasi terkini.
Untuk dua kapal Pertamina, saat ini kami terus memonitor perkembangan dan berkoordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait, keamanan dan keselamatan awak serta kapal menjadi prioritas kami,”
tutup Baron.




