Seorang spesialis robotika bawah air mengungkap penemuan mengejutkan ‘kota bangkai kapal’ yang tersembunyi di bawah danau Washington, di pusat kota Seattle. Spesialis kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV), Phil Parisi, sedang berupaya memverifikasi dan mendokumentasikan hampir 100 kapal di Danau Union.
Danau perkotaan tersebut telah berfungsi sebagai jalur air yang aktif selama lebih dari seabad, dan dimanfaatkan sebagai lalu lintas kapal di Kota Zamrud.
Pakar tersebut mengatakan bahwa sekitar setengah dari lokasi-lokasi tersebut, yang sebelumnya telah dipetakan, diyakini sebagai bangkai kapal dan tidak semuanya telah dieksplorasi oleh penyelam.
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Parisi menggunakan ROV untuk mendokumentasikan target yang diidentifikasi dalam survei sonar.
“Kita perlu mendokumentasikan seperti apa rupa bangkai kapal ini saat ini,”
kata Parisi, dikutip dari Fox News, Jumat, 8 Mei 2026.
Dia menggambarkan bagian danau yang lebih dalam sebagai “kota hantu,” di mana tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan tumbuhan sekali pun
“Tidak ada kehidupan. Namun, banyak bangkai kapal. Sungguh gila bahwa ada begitu banyak hal di bawah sana. Ini mengejutkan saya. Saya tercengang,”
ujarnya.
Parisi menegaskan bahwa meskipun sekitar 40 lokasi telah didokumentasikan, puluhan lokasi lainnya yang diidentifikasi dalam survei sonar masih belum dikonfirmasi secara visual.
Parisi dan timnya juga menggunakan GPS untuk mendekati target, kemudian mengandalkan sonar untuk menemukan lokasi target di perairan dengan jarak pandang rendah.
“Terbang tanpa arah melalui perairan keruh dan jarak pandang rendah itu sulit, jadi kami mengandalkan sonar yang terpasang pada ROV untuk ‘melihat’ dan menentukan posisi relatif target,”
bebernya.
“Banyak bangkai kapal yang terselip di bawahnya, dan beberapa pemilik marina enggan mengizinkan kami untuk merekam di bawah dermaga mereka. Kemudian, kami turun ke dasar dan terbang menuju sinyal sonar hingga target muncul di kamera ROV secara langsung,”
jelasnya.
Karena polusi di Danau Union, Parisi mengatakan timnya lebih mengandalkan ROV daripada penyelam scuba, karena tidak perlu merasa khawatir akan terkontaminasi. Namun mereka masih menghadapi tantangan, terutama dengan dermaga Seattle yang berjajar di sepanjang danau.
“Selain itu, ketika kami tiba di lokasi bangkai kapal , mengumpulkan informasi identifikasi bisa sangat sulit. Pengendapan organisme laut, karat, degradasi lingkungan lainnya sering kali menyebabkan stiker registrasi terlepas, nama lambung kapal yang dicat juga menjadi tidak terlihat, dan menyebabkan bangkai kapal runtuh,”
bebernya.
Ketika ditanya tentang penamaan danau tersebut sebagai “kota bangkai kapal,” Parisi mengatakan ada dua hal yang menonjol tentang lokasi bawah laut tersebut, yakni kedangkalan Danau Union dan banyaknya target “tak dikenal” yang masih tersisa.
“Danau ini sangat dangkal dibandingkan dengan perairan lain di Puget Sound, artinya pengunjung danau berada sangat dekat dengan sejarah maritim yang tenggelam namun seringkali tidak menyadarinya,”
kata Parisi.
“Setiap tempat menyimpan landmark luar biasa dan harta karun tersembunyi, namun kita sering kali teralihkan oleh rutinitas kehidupan yang membosankan. Kedua, dokumentasi atau rekaman hilang untuk lebih dari setengah dari hampir 100 target di danau tersebut, sehingga meninggalkan kesenjangan besar dalam pemahaman kita tentang apa yang ada di bawah sana,”
tambahnya.
Parisi juga mengatakan bahwa penelitian ini bukanlah penemuan baru, melainkan pengembangan dari survei sonar dan catatan penyelaman sebelumnya yang memetakan lokasi tersebut.
Dia juga menekankan pentingnya eksplorasi lokal, dengan mengatakan bahwa dia ingin warga Amerika merasa antusias dengan apa yang ada di halaman belakang rumah mereka sendiri.
“Jika Anda punya kesempatan, biarkan rasa ingin tahu mengambil alih dan telusuri sejarah kota atau daerah setempat Anda secara mendalam, sungguh menakjubkan apa yang terjadi belum lama ini, dan itu tidak pernah mengecewakan,”
pungkasnya.




