Pernahkah kamu bertanya mengapa ajaran Islam menganjurkan membersihkan najis berat, seperti jilatan anjing, menggunakan tanah terlebih dahulu, bukan langsung dengan sabun? Apakah ini hanya ritual keagamaan, atau ternyata ada penjelasan ilmiahnya?
Ternyata, praktik yang diajarkan lebih dari 1.400 tahun lalu ini dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan modern, khususnya dari sisi kimia dan mikrobiologi. Hal tersebut dijelaskan oleh Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Prof. Agustino Zulys.
Melalui akun TikTok @prof.zuly, Prof. Zulys menjelaskan bahwa tanah, terutama tanah liat mengandung ion logam aktif yang mampu membantu proses pembersihan bakteri dan mikroorganisme.
Alasan Ilmiah Tanah Liat
Menurut Prof. Zulys, tanah liat memiliki kandungan mineral seperti tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe), kalsium (Ca), dan natrium (Na). Kandungan tersebut memiliki kapasitas penukaran kation yang tinggi serta permukaan yang luas, sehingga mampu menarik, mengikat, bahkan merusak struktur sel bakteri dan mikroba lainnya.
Berdasarkan jurnal ilmiah yang dikutipnya, tanah liat juga dinilai efektif mengurangi jumlah bakteri hingga nol CFU per milimeter. Artinya, tanah dapat membantu menekan bahkan mematikan kontaminan biologis tertentu. Terdapat dua cara kerja tanah liat dalam membersihkan najis berat.
1. Membantu Melawan Bakteri
Mineral aktif dalam tanah bekerja dengan cara mengganggu struktur mikroorganisme. Karena memiliki daya ikat tinggi, tanah dapat menarik partikel bakteri lalu membantu merusaknya.
Inilah yang membuat tanah bukan sekadar media kotor, tetapi juga memiliki sifat alami yang dapat membantu proses pembersihan.
2. Bekerja seperti Spons
Selain mengandung mineral, tanah juga memiliki pori-pori kecil yang mampu menyerap kotoran dan menangkap bakteri. Cara kerjanya mirip seperti spons yang menyerap air dan debu.
Karena itu, tanah dianggap efektif membantu mengangkat sisa najis dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tertentu.
Mengapa Harus Dicuci Tujuh Kali?
Dalam ajaran Islam, bekas jilatan anjing dianjurkan dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya menggunakan tanah.
Menurut Prof. Zulys, penggunaan tanah pada tahap awal bertujuan membantu menghancurkan dan mengikat bakteri. Setelah itu, proses pencucian dengan air dilakukan untuk membersihkan sisa kotoran dan partikel tanah yang masih menempel hingga benar-benar bersih.
Penelitian Tanah sebagai Antibakteri
Sejumlah penelitian juga memanfaatkan tanah liat sebagai bahan antibakteri. Bahkan, beberapa penelitian Tanah sebagai Antibakteri
Sejumlah penelitian juga memanfaatkan tanah liat sebagai bahan antibakteri. Bahkan, beberapa peneliti tengah mengembangkan senyawa dari tanah yang berpotensi dijadikan antibiotik untuk membantu penyembuhan luka.
Tak hanya itu, bahan berbasis tanah liat kini mulai digunakan dalam produk kecantikan dan pembersih karena dinilai mampu membantu mengurangi bakteri pada kulit.
Penjelasan ilmiah ini menunjukkan bahwa penggunaan tanah untuk membersihkan najis berat bukan hanya bagian dari ajaran agama, tetapi juga memiliki manfaat yang dapat dijelaskan




