World Health Organization (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Democratic Republic of The Congo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional.
Sampai pertengahan Mei 2026, wabah ini tercatat sudah menyebabkan sekitar 80 orang meninggal dunia.
Dilansir dari Reuters, wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang cukup jarang muncul jika dibandingkan dengan strain Zaire.
Perbatasan Kongo dan Uganda
Meskipun belum memenuhi kriteria pandemi global, WHO menilai ada risiko penyebaran lintas negara di kawasan Afrika Tengah, terutama karena banyak warga yang keluar masuk wilayah perbatasan Kongo dan Uganda.
Pusat wabah ini terjadi di Provinsi Ituri, Kongo timur, seperti di Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.
Otoritas kesehatan melaporkan ratusan kasus suspek dengan belasan kasus telah terkonfirmasi di laboratorium. Selain itu, satu kasus juga dilaporkan muncul di Kota Goma.
Positif Ebola
Di Uganda, dua orang yang baru pulang dari Kongo juga dinyatakan positif Ebola, dan satu diantaranya meninggal dunia.
Saat ini WHO menyebut belum ada indikasi penyebaran di Uganda, namun pengawasan tetap diperketat karena mobilitas lintas batas yang tinggi.
Virus Bundibugyo menjadi perhatian serius, karena hingga kini belum ada vaksin khusus maupun terapi khusus yang efektif untuk mengobati virus ini.
Berbeda dengan jenis Ebola lain yang sudah punya vaksin, pasien Bundibugyo saat ini hanya bisa mendapat perawatan untuk menjaga kondisi tubuh dan meningkatkan peluang bertahan hidup.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini bisa menyebabkan gejala berat seperti demam tinggi, sakit kepala, muntah, diare, tubuh lemas, sampai perdarahan. Tingkat kematiannya juga cukup tinggi, bisa mencapai 50 persen.
Perketat Pemeriksaan Kesehatan
WHO meminta negara-negara di kawasan Afrika untuk memperketat pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan segera mengisolasi pasien yang terinfeksi.
Orang yang sempat kontak dengan pasien Ebola juga diminta tidak bepergian dulu selama 21 hari.
Meski demikian, WHO juga mengingatkan negara lain agar tidak menutup perbatasan secara total karena dikhawatirkan akan memicu jalur penyebaran ilegal yang sulit dipantau.
Selain itu, hutan tropis lebat di Kongo disebut menjadi reservoir alami virus Ebola, sehingga potensi munculnya wabah baru tetap ada.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat melalui CDC ikut meningkatkan kewaspadaan. CDC sudah mengaktifkan pusat tanggap darurat dan mengirim tambahan petugas ke Kongo dan Uganda.
Ada juga laporan beberapa warga Amerika diduga terpapar virus, meski sampai sekarang belum ada kasus Ebola yang dikonfirmasi di AS.


