Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Berbagai tradisi tersebut lahir dari nilai kehidupan masyarakat setempat. Mulai dari ungkapan syukur, penghormatan terhadap leluhur, hingga bentuk kebersamaan antarwarga.
Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki kebiasaan unik yang diwariskan turun-temurun dan masih dijaga hingga kini.
Berbagai kekayaan budaya ini juga menjadi daya tarik pariwisata nasional dan mancanegara, sehingga diyakini ikut menjadi salah satu motor penggerak devisa, serta pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Target Pariwisata
Pada tahun ini, target pariwisata Indonesia dipatok mencapai 16 juta hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pemerintah juga menargetkan devisa pariwisata sebesar US$22 miliar hingga US$24,7 miliar, dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB mencapai 4,5–4,7 persen.
Selain itu, pemerintah menargetkan sekitar 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada 2026 sebagai bagian dari penguatan sektor pariwisata nasional.
Berikut ini adalah 10 tradisi unik di Indonesia yang sampai hari ini masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat dan menjadi daya tarik pariwisata.

1. Upacara Ngaben (Bali)
Melansir dari laman Ceraken Kebudayaan Bali (15/04/2025), upacara Ngaben merupakan salah satu tradisi penting dalam agama Hindu Bali. Rangkaian utama kegiatan ini adalah upacara pembakaran mayat.
Dalam prakteknya, Ngaben ini termasuk dalam rangkaian upacara pitra yajna, yaitu upacara untuk menghormati dan menyucikan roh leluhur. Tujuan utama dari Ngaben ini adalah melepaskan atma (roh) dari unsur jasmani agar dapat kembali menuju alam ketuhanan atau Brahman.
Upacara Ngaben adalah salah satu tradisi budaya unik yang hingga hari ini masih dilestarikan oleh masyarakat Hindu Bali sebagai upacara sakral.
2. Ritual Rambu Solo (Toraja)
Suku Toraja di Sulawesi Selatan memiliki berbagai ritual adat. Terutama ritual adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia, mulai dari kelahiran hingga kematian. Dalam kepercayaan masyarakat adat, setiap tahap kehidupan dianggap sakral dan perlu penyempurnaan lewat upacara adat.
Salah satu yang paling dikenal yaitu Rambu Solo. Yaitu upacara kematian yang tujuannya untuk menghormati serta mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal ke alam roh yang disebut puya.
Pelaksanaan Rambu Solo dapat berbeda-beda tiap komunitas adat. Namun, meski caranya berbeda-beda, semuanya memiliki tujuan yang sama. Salah satu wilayah yang masih melestarikan tradisi ini yaitu komunitas Kete Kesu di Toraja. Utara.
3. Sekaten (Daerah Istimewa Yogyakarta)

Mengutip dari situs Dinas Kebudayaan (Khunda Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Sekaten adalah tradisi untuk menghormati arwah leluhur. Awalnya, upacara ini adalah bentuk penghormatannya dengan melakukan selamatan atau sesaji yang diselenggarakan oleh para raja.
Namun pada masa Wali Sanga, upacara ini disesuaikan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Adapun kata Sekaten sendiri berasal dari kata ‘sekati’ yang artinya adalah dua perangkat gamelan pusaka Kraton yang dibunyikan dalam pelaksanaan acara.
Berbeda dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada umumnya, Sekaten punya rangkaian acara sendiri. Yaitu pertama damelan dikeluarkan, lalu sore harinya kedua gamelan dibunyikan, kemudian pukul 23.00 – 00.00 dipindahkan ke halaman Masjid Agung dengan iring-iringan abdi dalem Kraton.
Kegiatan ini berlangsung setiap tanggal 6 sampai 12 bulan Maulid di Komplek Kraton dan Masjid Agung dengan serangkaian pasar malam di sekitar Alun-alun Utara.
4. Bakar Batu (Papua)
Tradisi Batu Bakar adalah kegiatan di mana masyarakat menggunakan batu sebagai tatakan untuk memasak makanan. Tradisi ini paling banyak masih dilakukan oleh suku Dani dari Lembah Baliem, Papua.
Adapun tujuan dari tradisi ini adalah untuk meningkatkan nilai bersyukur serta bersilaturahmi mempererat hubungan persaudaraan Masyarakat Papua Pegunungan.
Tentunya karena tradisi ini bisa mengumpulkan banyak orang sekali pelaksanaan, Batu Bakar juga menjadi simbol atas rasa syukur, kebahagiaan, dan kebersamaan yang dirasakan oleh masyarakat.
5. Tabuik (Sumatera Barat)
Tabuik atau yang lebih sering disebut Pesta Tabuik selalu jadi acara yang meriah di Sumatera Barat. Perayaan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sejak 1831 sebagai peringatan Asyura atau hari kematian Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.
Tabuik adalah representasi dari makluk mitologis bernama burak yang digambarkan membawa jasad Husein bi Ali terbang ke angkasa dan menghilang. Bentuknya yaitu bagian atas seperti keranda menyerupai menara yang dihiasi bunga dan kain beludru warna-warni. Sedangkan bagian bawahnya berbentuk kuda bersayap, berekor dan berkepala manusia berambut panjang.
Sampai hari ini, tradisi Tabuik masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat Sumatera Barat.
6. Karapan Sapi (Madura)

Karapan Sapi atau Karaben Sapi adalah tradisi atraksi khas Madura berupa perlombaan atau adu cepat pasangan sapi yang ditunggangi tukang jongkok (joki atau sais). Sebelum pertandingan, terdengar iringan saronen, orkes gamelan khas Madura, sapi-sapi diarah mengelilingi arena pacuan.
Setelah sapi melemaskan otot sambal memamerkan keindahan pakaian (ambhin) dan aksesori yang beraneka ragam, semuanya dilucuti kecuali hiasan kepala. Hiasan kepala itu sebagai simbol percaya diri dan keperkasaan sapi selama adu cepat berlangsung.
Karapan Sapi adalah tradisi yang unik yang saat ini masih terjaga kelestariannya. Pagelaran ini menjadi ikon Madura dan atraksi wisata yang menarik perhatian turis lokal maupun mancanegara.
7. Pasola (Sumba, NTT)
Pasola adalah rangkaian dari upacara Nale, upacara traidsional yang digelar di Suma Barat dan Sumba Barat Daya. Upacara ini berupa serangkaian permainan berkuda dan saling lembar lembing dari atas kuda yang berlari cepat.
Tradisi ini berasal dari kepercayaan Marapi yang mana tujuannya untuk merayakan waktu panen tiba. Jadi maksudnya adalah setiap keberhasilan dipersembahkan kepada Dewa dalam ajaran Marapu.
Saat ini upacara sakral ini sudah menjadi warisan budaya yang menarik perhatian. Pasola sudah menjadi sebuah tradisi atraksi adu ketangkasan yang kelestariannya masih dijaga oleh masyarakat Sumba.
Identitas Budaya
Keberagaman tradisi di Indonesia menjadi bukti kekayaan budaya yang dimiliki setiap daerah. Meski zaman terus berkembang, tradisi tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai identitas budaya.
Melalui pelestarian tradisi, masyarakat bukan hanya menjaga warisan budaya, tapi juga memperkenalkan lebih luas tentang kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.


