Jakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga menyimpan berbagai jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Di tengah perkembangan kota yang modern, sejumlah bangunan, museum, dan kawasan bersejarah masih menjadi saksi perjalanan panjang Jakarta dari masa ke masa.
Berikut beberapa destinasi wisata sejarah di Jakarta yang dapat menjadi pilihan untuk mengenal masa lalu ibu kota lebih dekat.
1. Wisata Kota Tua
Melansir laman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kota Tua Jakarta atau Batavia Lama merupakan kawasan bersejarah seluas sekitar 1,3 kilometer persegi yang berada di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Kawasan ini menjadi cikal bakal Jakarta modern dan pernah berfungsi sebagai pusat perdagangan rempah-rempah penting di Asia pada masa kolonial Belanda. Karena perannya yang strategis, Batavia bahkan sempat dijuluki sebagai “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur”.
Saat berkunjung ke Kota Tua, wisatawan dapat menemukan berbagai destinasi edukatif yang menyimpan jejak sejarah Jakarta, seperti Museum Sejarah Jakarta yang dahulu merupakan Balai Kota Batavia, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Bank Indonesia.
Kini kawasan Taman Fatahillah telah ditata sebagai kawasan ramah pejalan kaki dan pesepeda melalui penerapan Low Emission Zone (LEZ). Kendaraan pribadi dibatasi untuk melintas sehingga pengunjung disarankan menggunakan transportasi umum.
2. Monumen Nasional (Monas)
Berlokasi di jantung ibu kota, Monas menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang paling ikonik dan bersejarah di Jakarta. Monumen ini berada di kawasan Lapangan Medan Merdeka dan dikelilingi berbagai bangunan penting negara, seperti Istana Merdeka, Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral Jakarta.
Monas ternyata dirancang dengan filosofi budaya Indonesia yang cukup mendalam, yaitu konsep Lingga (alu) dan Yoni (lesung).
Lingga melambangkan unsur maskulinitas yang diproyeksikan melalui bentuk tugu yang menjulang tinggi, sedangkan Yoni melambangkan unsur femininitas yang diwujudkan pada bagian dasar berbentuk cawan. Filosofi tersebut menggambarkan keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan.
Uniknya, Pelataran cawan memiliki tinggi 17 meter yang melambangkan tanggal kemerdekaan, luas pelataran 45 x 45 meter yang melambangkan tahun 1945, serta jarak ruang museum ke dasar cawan sejauh 8 meter yang merepresentasikan bulan Agustus. Simbol-simbol tersebut menjadi penghormatan terhadap peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
3. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Taman budaya ini dibangun atas gagasan Siti Hartinah Soeharto, istri Presiden ke-2 Indonesia Soeharto. Gagasan tersebut muncul setelah ia melihat konsep taman rekreasi bertema budaya saat berkunjung ke luar negeri pada awal 1970-an.
Diresmikan pada tahun 1975, TMII menjadi salah satu proyek besar yang merepresentasikan identitas nasional pada masa Orde Baru. Karena itu, kawasan ini memiliki nilai sejarah sebagai pusat pelestarian budaya terintegrasi pertama di Indonesia.
Salah satu daya tarik utama TMII adalah keberadaan anjungan daerah yang menampilkan rumah adat, arsitektur tradisional, serta berbagai unsur budaya dari seluruh provinsi di Indonesia.
Setelah direvitalisasi, TMII mengusung empat pilar pengembangan, yaitu green, inclusive, culture, dan smart. Kawasan ini kini menerapkan konsep ramah lingkungan dengan pembatasan kendaraan pribadi di area utama dan menyediakan layanan shuttle listrik untuk memudahkan mobilitas pengunjung.
4. Museum Taman Prasasti
Berlokasi di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Museum Taman Prasasti merupakan kompleks pemakaman elit bernama Kebon Jahe Kober yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1795. Setelah tidak lagi difungsikan sebagai pemakaman, kawasan tersebut kemudian diresmikan sebagai museum terbuka pada tahun 1977.
Museum Taman Prasasti menyimpan beragam koleksi batu nisan kuno dengan berbagai gaya arsitektur dan seni pahat. Di kawasan ini juga terdapat makam Olivia Mariamne Raffles, istri dari Thomas Stamford Raffles, serta makam keluarga tokoh-tokoh penting pada masa kolonial.
Keunikan museum terbuka ini terletak pada perpaduan unsur seni pahat, kaligrafi, dan arsitektur, serta koleksi kereta jenazah antik. Dengan suasana yang tenang dan sarat nilai sejarah, Museum Taman Prasasti menjadi pilihan wisata edukatif bagi pengunjung yang ingin mengenal jejak kehidupan masyarakat Batavia
5. Museum Fatahillah
Berada di kawasan Kota Tua Jakarta, Museum Sejarah Jakarta dibangun antara tahun 1707 hingga 1712 dan mengusung gaya arsitektur neoklasik yang terinspirasi dari Istana Dam di Amsterdam, Belanda.
Sebelum berfungsi sebagai museum, bangunan ini merupakan Balai Kota (Stadhuis) Batavia sekaligus pusat administrasi pemerintahan kolonial Belanda, serta penjara bawah tanah yang dikenal memiliki kondisi sangat buruk bagi para tahanan.
Beberapa tokoh penting dalam sejarah Indonesia, seperti Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien, pernah ditahan di tempat ini sebelum menjalani pengasingan.
Kini Museum Fatahillah menjadi salah satu pusat edukasi sejarah Jakarta. Museum ini menyimpan lebih dari 23.500 koleksi yang mencakup berbagai periode sejarah, mulai dari masa prasejarah, Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, hingga era kolonial.
Nama “Fatahillah” sendiri diambil dari nama tokoh yang berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada tahun 1527. Setelah kemenangan tersebut, wilayah itu kemudian diberi nama Jayakarta yang menjadi cikal bakal nama Jakarta yang dikenal saat ini.


