Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 16 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • MBG
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Hype / 5 Wisata Bersejarah di Jakarta yang Menyimpan Jejak Masa Kolonial
Hype

5 Wisata Bersejarah di Jakarta yang Menyimpan Jejak Masa Kolonial

Ani RatnasariSyifa Fauziah
Last updated: Juni 15, 2026 7:18 pm
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
Share
Wisata Sejarah di Jakarta
Wisata Sejarah di Jakarta (Foto: Instagram /@monas)
SHARE

Jakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga menyimpan berbagai jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Di tengah perkembangan kota yang modern, sejumlah bangunan, museum, dan kawasan bersejarah masih menjadi saksi perjalanan panjang Jakarta dari masa ke masa.

Daftar isi Konten
  • 1. Wisata Kota Tua
  • 2. Monumen Nasional (Monas)
  • 3. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
  • 4. Museum Taman Prasasti
  • 5. Museum Fatahillah

Berikut beberapa destinasi wisata sejarah di Jakarta yang dapat menjadi pilihan untuk mengenal masa lalu ibu kota lebih dekat.

Baca juga:
Sekolah Swasta Gratis Jakarta Dibuka 15 Juni 2026, SPP dan… Kabar baik buat warga Jakarta, buat kamu yang sedang mencari sekolah untuk…
Kartu Hitam JakLingko Bisa Bikin Ongkos Transportasi Lebih Hemat, Tarif… Sering gonta-ganti moda transportasi untuk (transum) kayak Transjakarta, MRT, LRT, atau KRL…
Prakiraan Cuaca Selasa 9 Juni 2026, Jakarta Berawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di wilayah DKI Jakarta…
  • Sekolah Swasta Gratis Jakarta Dibuka 15 Juni 2026, SPP dan Uang Pangkal…
  • Kartu Hitam JakLingko Bisa Bikin Ongkos Transportasi Lebih Hemat, Tarif Terintegrasi Maksimal…
  • Prakiraan Cuaca Selasa 9 Juni 2026, Jakarta Berawan

1. Wisata Kota Tua

Melansir laman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kota Tua Jakarta atau Batavia Lama merupakan kawasan bersejarah seluas sekitar 1,3 kilometer persegi yang berada di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Kawasan ini menjadi cikal bakal Jakarta modern dan pernah berfungsi sebagai pusat perdagangan rempah-rempah penting di Asia pada masa kolonial Belanda. Karena perannya yang strategis, Batavia bahkan sempat dijuluki sebagai “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur”.

Saat berkunjung ke Kota Tua, wisatawan dapat menemukan berbagai destinasi edukatif yang menyimpan jejak sejarah Jakarta, seperti Museum Sejarah Jakarta yang dahulu merupakan Balai Kota Batavia, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Bank Indonesia.

Kini kawasan Taman Fatahillah telah ditata sebagai kawasan ramah pejalan kaki dan pesepeda melalui penerapan Low Emission Zone (LEZ). Kendaraan pribadi dibatasi untuk melintas sehingga pengunjung disarankan menggunakan transportasi umum.

2. Monumen Nasional (Monas)

Berlokasi di jantung ibu kota, Monas menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang paling ikonik dan bersejarah di Jakarta. Monumen ini berada di kawasan Lapangan Medan Merdeka dan dikelilingi berbagai bangunan penting negara, seperti Istana Merdeka, Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral Jakarta.

Monas ternyata dirancang dengan filosofi budaya Indonesia yang cukup mendalam, yaitu konsep Lingga (alu) dan Yoni (lesung).

Lingga melambangkan unsur maskulinitas yang diproyeksikan melalui bentuk tugu yang menjulang tinggi, sedangkan Yoni melambangkan unsur femininitas yang diwujudkan pada bagian dasar berbentuk cawan. Filosofi tersebut menggambarkan keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan.

Uniknya, Pelataran cawan memiliki tinggi 17 meter yang melambangkan tanggal kemerdekaan, luas pelataran 45 x 45 meter yang melambangkan tahun 1945, serta jarak ruang museum ke dasar cawan sejauh 8 meter yang merepresentasikan bulan Agustus. Simbol-simbol tersebut menjadi penghormatan terhadap peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Baca juga:
Pemprov DKI Jakarta Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya, Gaji… Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membuka sebanyak 2.843 lowongan kerja melalui…
Diprediksi Cerah, Suhu Udara Jakarta Diperkirakan Capai 35 Derajat Celcius Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca cerah hingga cerah berawan…
Prakiraan Cuaca Jakarta Sabtu 6 Juni 2026: Jakarta Selatan Diguyur… Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di wilayah DKI Jakarta…
  • Pemprov DKI Jakarta Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya, Gaji Setara UMP
  • Diprediksi Cerah, Suhu Udara Jakarta Diperkirakan Capai 35 Derajat Celcius
  • Prakiraan Cuaca Jakarta Sabtu 6 Juni 2026: Jakarta Selatan Diguyur Hujan Ringan

3. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Taman budaya ini dibangun atas gagasan Siti Hartinah Soeharto, istri Presiden ke-2 Indonesia Soeharto. Gagasan tersebut muncul setelah ia melihat konsep taman rekreasi bertema budaya saat berkunjung ke luar negeri pada awal 1970-an.

Diresmikan pada tahun 1975, TMII menjadi salah satu proyek besar yang merepresentasikan identitas nasional pada masa Orde Baru. Karena itu, kawasan ini memiliki nilai sejarah sebagai pusat pelestarian budaya terintegrasi pertama di Indonesia.

Salah satu daya tarik utama TMII adalah keberadaan anjungan daerah yang menampilkan rumah adat, arsitektur tradisional, serta berbagai unsur budaya dari seluruh provinsi di Indonesia.

Setelah direvitalisasi, TMII mengusung empat pilar pengembangan, yaitu green, inclusive, culture, dan smart. Kawasan ini kini menerapkan konsep ramah lingkungan dengan pembatasan kendaraan pribadi di area utama dan menyediakan layanan shuttle listrik untuk memudahkan mobilitas pengunjung.

4. Museum Taman Prasasti

Berlokasi di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Museum Taman Prasasti merupakan kompleks pemakaman elit bernama Kebon Jahe Kober yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1795. Setelah tidak lagi difungsikan sebagai pemakaman, kawasan tersebut kemudian diresmikan sebagai museum terbuka pada tahun 1977.

Museum Taman Prasasti menyimpan beragam koleksi batu nisan kuno dengan berbagai gaya arsitektur dan seni pahat. Di kawasan ini juga terdapat makam Olivia Mariamne Raffles, istri dari Thomas Stamford Raffles, serta makam keluarga tokoh-tokoh penting pada masa kolonial.

Keunikan museum terbuka ini terletak pada perpaduan unsur seni pahat, kaligrafi, dan arsitektur, serta koleksi kereta jenazah antik. Dengan suasana yang tenang dan sarat nilai sejarah, Museum Taman Prasasti menjadi pilihan wisata edukatif bagi pengunjung yang ingin mengenal jejak kehidupan masyarakat Batavia

5. Museum Fatahillah

Berada di kawasan Kota Tua Jakarta, Museum Sejarah Jakarta dibangun antara tahun 1707 hingga 1712 dan mengusung gaya arsitektur neoklasik yang terinspirasi dari Istana Dam di Amsterdam, Belanda.

Sebelum berfungsi sebagai museum, bangunan ini merupakan Balai Kota (Stadhuis) Batavia sekaligus pusat administrasi pemerintahan kolonial Belanda, serta penjara bawah tanah yang dikenal memiliki kondisi sangat buruk bagi para tahanan.

Beberapa tokoh penting dalam sejarah Indonesia, seperti Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien, pernah ditahan di tempat ini sebelum menjalani pengasingan.

Kini Museum Fatahillah menjadi salah satu pusat edukasi sejarah Jakarta. Museum ini menyimpan lebih dari 23.500 koleksi yang mencakup berbagai periode sejarah, mulai dari masa prasejarah, Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, hingga era kolonial.

Nama “Fatahillah” sendiri diambil dari nama tokoh yang berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada tahun 1527. Setelah kemenangan tersebut, wilayah itu kemudian diberi nama Jayakarta yang menjadi cikal bakal nama Jakarta yang dikenal saat ini.

Tag:Jakartajejak masa kolonialwisata bersejarah
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Follow:
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Jokowi Jadi Tumpuan PSI, Taruhan Besar Menuju 2029 atau Sekadar Judi Politik?
By Hardani Triyoga
Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi dan Iriana saat nonton laga Semifinal Timnas U-19 vs Australia di Medan.
1
Trump Klaim Deal Damai dengan Iran, Selat Hormuz Bakal Dibuka Gratis Tanpa Biaya Tol
By Hardani Triyoga
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. (Foto: AI).
2
Megawati Bela Demo BEM UI: Mahasiswa Warga Negara, Mestinya Jangan Takut!
By Rika Pangesti
Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri saat peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Kota Blitar, Jawa Timur, Senin, 15 Juni 2026.
3
Kejagung Ogah Gegabah Restui Sony Sonjaya Jadi Justice Collaborator MBG: Konsistensi Dipertanyakan
By Rahmat Baihaqi
Warga yang tergabung dalam aliansi MBG Watch membawa poster saat aksi unjuk rasa di depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026).
4
Korupsi MBG: Gak Cuma Incar Pelaku, Kejagung Bakal Kuras Aset Komplotan Dadan Hindayana
By Rahmat Baihaqi
Peserta aksi yang tergabung dalam Lingkar Aspirasi Publik (LAP) mengibarkan bendera Merah Putih saat unjuk rasa di Tugu Adipura, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/6/2026).
5

BERITA LAINNYA

Suasana nobar di Vasaka Hotel Jakarta
Hype

Nobar Piala Dunia 2026 Jadi Tren Baru Tempat Berkumpul Pecinta Sepak Bola di Jakarta

Antusiasme menyambut Piala Dunia 2026 mulai terasa di berbagai kota, termasuk Jakarta.…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
5 jam lalu
Soto Betawi
Hype

5 Kuliner Legendaris Betawi Tetap Eksis di Tengah Modernisasi Jakarta

Jakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan bisnis Indonesia, tetapi juga…

Hilwa UrwatulIvan OWRITE
By
Hilwa Urwatul Wutsqa
Ivan Syahruna Lubis
11 jam lalu
Pawai Obor 1 Muharram
Hype

3 Alasan Umat Islam Gelar Pawai Obor Saat 1 Muharram, Ternyata Bukan Sekadar Tradisi

Saat malam Tahun Baru Islam tiba, ada satu tradisi yang hampir selalu…

Ani RatnasariSyifa Fauziah
By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
11 jam lalu
Ilustrasi HUT Jakarta 2026
Hype

HUT Jakarta 2026 Bakal Meriah, Ini Daftar Acara yang Sayang Dilewatkan

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-499 akan kembali dimeriahkan dengan berbagai…

Ossid Duha Jussas SalmaSyifa Fauziah
By
Ossid Duha Jussas Salma
Syifa Fauziah
12 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up