Kapten Timnas Belanda, Virgil van Dijk, melayangkan kritik terhadap salah satu regulasi baru yang diterapkan FIFA pada ajang Piala Dunia 2026.
Bek andalan Liverpool tersebut menilai aturan jeda hidrasi atau hydration break yang diberlakukan di setiap pertandingan tidak selalu diperlukan dan berpotensi mengganggu ritme permainan.
Komentar itu disampaikan Van Dijk setelah Belanda bermain imbang 2-2 melawan Jepang pada laga perdana Grup F yang berlangsung di AT&T Stadium, Texas, Senin 15 Juni 2026.
Dalam pertandingan tersebut, Van Dijk sempat membawa Tim Oranye unggul lewat gol sundulan hasil umpan Ryan Gravenberch.
Namun, keunggulan Belanda gagal dipertahankan setelah Jepang mencetak gol penyama kedudukan menjelang akhir pertandingan melalui Daichi Kamada.
Usai laga, perhatian Van Dijk justru tertuju pada aturan baru FIFA yang mewajibkan penghentian pertandingan setiap 22 menit untuk memberikan kesempatan pemain mengisi cairan tubuh.
Menurutnya, kebijakan tersebut layak dievaluasi karena tidak semua pertandingan berlangsung dalam kondisi cuaca ekstrem.
Menambah Daftar Kritik Terhadap Kebijakan FIFA
Van Dijk bukan sosok pertama yang mempertanyakan aturan tersebut. Sebelumnya, mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, juga pernah mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan jeda hidrasi yang diterapkan FIFA.
Aturan tersebut diberlakukan mengingat sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mengalami suhu tinggi selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Setiap jeda berlangsung selama tiga menit sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.
Meski memahami alasan kesehatan yang menjadi dasar penerapan aturan itu, Van Dijk merasa kebijakan tersebut seharusnya lebih fleksibel.
Saya pikir jeda hidrasi ini cukup menarik untuk dibahas. Sebelum hari ini saya sudah menonton hampir semua pertandingan,”
kata Van Dijk seusai laga.
Saya merasa setiap kali pertandingan berhenti untuk jeda dan masuk ke iklan, itu bukan sesuatu yang saya sukai,”
tambah pemain Liverpool tersebut.
Minta Evaluasi Berdasarkan Kondisi Pertandingan
Bek berusia 34 tahun tersebut menegaskan bahwa jeda hidrasi memang penting jika pertandingan dimainkan dalam suhu yang sangat panas. Namun, ia menilai FIFA tidak perlu menerapkannya secara otomatis di semua laga.
Menurut Van Dijk, kondisi cuaca dan intensitas pertandingan seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan adanya penghentian sementara.
Saya rasa bagi penonton netral yang menonton di televisi, situasi ini juga tidak terlalu bagus. Kalau cuacanya memang sangat panas, tentu jeda seperti itu bisa diterapkan,”
ujar Van Dijk.
Tetapi, menurut saya setiap pertandingan harus dilihat secara terpisah. Saya rasa saya sudah cukup banyak bicara soal ini,”
tambahnya.
Pernyataan Van Dijk menunjukkan adanya harapan agar FIFA mengevaluasi kembali penerapan jeda hidrasi yang saat ini berlaku untuk seluruh pertandingan Piala Dunia 2026.
Dengan total 104 pertandingan yang digelar sepanjang turnamen, aturan tersebut berpotensi terus menjadi bahan perdebatan, terutama jika diterapkan pada laga-laga yang tidak berlangsung dalam cuaca ekstrem.
Kritik dari pemain sekaliber Virgil van Dijk pun menambah sorotan terhadap kebijakan FIFA, yang kini dituntut untuk menyeimbangkan aspek kesehatan pemain tanpa mengurangi kualitas dan ritme pertandingan di lapangan.

