Di era media sosial, banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren, menghadiri acara populer, atau terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain. Kebiasaan ini sering memicu FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain.
Namun, kini muncul tren baru yang justru mengajak untuk berhenti mengejar semuanya, yakni JOMO (Joy of Missing Out). Konsep ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan sosial sekaligus menjaga kesehatan mental.
Sikap seperti apa JOMO itu, berikut penjelasannya dari berbagai sumber.
Apa itu JOMO?
Melansir dari laman Halodoc, JOMO adalah singkatan dari Joy of Missing Out, yaitu perasaan bahagia dan nyaman ketika memilih untuk tidak ikut serta dalam aktivitas, tren, atau berbagai hal yang sedang ramai dilakukan orang lain.
Konsep JOMO menekankan pentingnya menemukan kepuasan dalam momen yang sedang dijalani tanpa merasa harus selalu terhubung dengan aktivitas orang lain. Dengan kata lain, JOMO adalah sikap menerima bahwa tidak semua hal harus diikuti.
Perbedaan JOMO dan FOMO
JOMO dan FOMO memiliki perbedaan yang cukup mendasar yaitu pada fokus perhatian, emosi yang muncul, serta dampaknya terhadap kesehatan mental.
Secara sederhana, FOMO berpusat pada ketakutan akan ketertinggalan, sedangkan JOMO menekankan kebahagiaan karena tidak harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Karena itu, JOMO dianggap dapat membantu menjaga kesejahteraan mental dan mengurangi tekanan sosial.
Manfaat Menerapkan JOMO
Menerapkan Joy of Missing Out (JOMO) dalam kehidupan sehari-hari jadi bisa menjalani aktivitas dengan lebih tenang dan sesuai dengan prioritas pribadinya. Selain itu juga membantu mengurangi stres dan kecemasan.
JOMO juga dapat meningkatkan kepuasan diri, produktivitas, hingga berpotensi memperbaiki kualitas tidur. Tak kalah penting, JOMO dapat memperkuat hubungan sosial yang lebih bermakna. Alih-alih berusaha mengikuti semua aktivitas sosial.
Tips Menerapkan JOMO dalam Kehidupan Sehari-hari
Menerapkan JOMO tidak berarti harus menghindari media sosial atau menolak semua aktivitas sosial. Berikut adalah tips menerapkan JOMO dalam kehidupan sehari-hari.
- Batasi penggunaan media sosial. Atur waktu penggunaan media sosial agar tidak berlebihan dan hindari kebiasaan mengecek ponsel terus-menerus, terutama sebelum tidur.
- Fokus pada diri sendiri. Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai, seperti berolahraga, membaca buku, menekuni hobi, atau sekadar beristirahat.
- Prioritaskan hubungan yang bermakna. Habiskan waktu berkualitas bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat yang memberikan dukungan positif.
- Belajar mengatakan “tidak”. Tidak semua undangan, tren, atau aktivitas harus diikuti. Pilih kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas pribadi.
- Biasakan bersyukur. Menghargai hal-hal yang dimiliki dapat membantu meningkatkan rasa puas dan mengurangi keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain.
- Nikmati momen saat ini. Fokus pada apa yang sedang dijalani tanpa terlalu memikirkan apa yang dilakukan orang lain atau khawatir akan hal yang terlewatkan.
JOMO mengajarkan bahwa melewatkan sesuatu bukanlah hal yang buruk, selama seseorang dapat menikmati dan menghargai apa yang sedang dijalani.
Dengan lebih fokus pada diri sendiri, menjaga keseimbangan hidup, dan memprioritaskan hal-hal yang benar-benar bermakna, seseorang dapat merasakan ketenangan serta kebahagiaan tanpa harus terus-menerus merasa takut tertinggal.





















