Keputusan FIFA menangguhkan hukuman larangan bermain penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun memicu kontroversi menjelang pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia.
Kebijakan tersebut membuat Balogun tetap bisa tampil, meski sebelumnya menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia-Herzegovina. Dasar penangguhan hukuman Balogun merujuk kepada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA.
Keputusan ini langsung menuai protes dari Belgia. Polemik semakin memanas setelah muncul laporan yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump diduga ikut memengaruhi proses peninjauan hukuman tersebut.
Balogun mendapat kartu merah ketika Amerika Serikat mengalahkan Bosnia-Herzegovina 2-0 pada babak 32 besar. Penyerang berusia 25 tahun itu lebih dulu mencetak gol pembuka pada menit ke-45 sebelum diusir keluar lapangan pada menit ke-64.
Wasit Raphael Claus mengubah keputusan awal setelah meninjau tayangan VAR terkait pelanggaran Balogun terhadap Tarik Muharemovic.
Sesuai regulasi FIFA, kartu merah langsung otomatis membuat seorang pemain harus menjalani larangan bermain pada pertandingan berikutnya. Awalnya FIFA juga menegaskan keputusan wasit tidak dapat diajukan banding sehingga Balogun dipastikan absen menghadapi Belgia.
Kisruh Pasal 27
Namun, situasi berubah sehari sebelum laga babak 16 besar digelar. FIFA mengumumkan bahwa hukuman Balogun ditangguhkan berdasarkan Kode Disiplin FIFA.
“Berdasarkan penerapan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, pelaksanaan hukuman larangan bermain otomatis terhadap pemain Amerika Serikat Folarin Balogun ditangguhkan untuk masa percobaan selama satu tahun,”
tulis keterangan FIFA seperti dilansir ESPN, Senin, 6 Juli 2026.
Dengan keputusan tersebut, Balogun tetap berhak memperkuat Amerika Serikat menghadapi Belgia. Lantas FIFA menegaskan apabila dalam masa percobaan satu tahun tersebut Balogun kembali melakukan pelanggaran dengan tingkat keseriusan serupa, hukuman yang ditangguhkan akan langsung diberlakukan bersamaan dengan sanksi baru yang mungkin dijatuhkan.
Ada Lobi Trump?
Kontroversi semakin berkembang setelah laporan dari ABC menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino usai kemenangan Amerika Serikat atas Bosnia-Herzegovina.
Dalam laporan tersebut, Trump disebut meminta FIFA meninjau kembali keputusan kartu merah Balogun. Tak lama setelah FIFA mengumumkan penangguhan hukuman, Trump turut memberikan respons melalui media sosial.
“Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar dan membatalkan sebuah ketidakadilan besar!”
ucap Trump.
Respons Pochettino
Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino mengaku puas dengan keputusan FIFA yang mengizinkan Balogun kembali bermain.
“Reaksi saya sama seperti semua orang yang benar-benar mencintai sepak bola dan percaya pada etika serta integritas. Saya rasa publik semua menyambut baik keputusan itu. Kami sudah cukup dihukum saat melawan Bosnia-Herzegovina karena harus bermain dengan 10 orang selama 35 menit akibat keputusan yang benar-benar tidak adil,”
kata Pochettino.
Ia menegaskan pandangannya bukan semata karena menangani Timnas Amerika Serikat.
“Ini bukan hanya karena saya pelatih tim nasional Amerika Serikat dan harus membela tim saya. Saya yakin 99,9 persen orang akan sepakat bahwa kartu merah itu memang tidak adil,”
ucap pelatih asal Argentina tersebut.
Pochettino juga menjelaskan dirinya tidak ikut terlibat dalam proses pengajuan peninjauan hukuman.
“J.T. Batson dan seluruh federasi bekerja keras membela posisi kami. Saya sendiri fokus mempersiapkan tim menghadapi Belgia,”
aku dia.
Menurutnya, sikap tenang Balogun setelah menerima kartu merah turut memberikan kesan positif selama proses tersebut.
“Pelajarannya adalah jika Anda bersikap baik, mungkin Anda akan mendapatkan penghargaan. Saya sangat senang dengan cara dia menangani situasi itu,”
ujar Pochettino.
Saat ditanya mengenai isu keterlibatan Donald Trump, Pochettino memilih tidak berspekulasi.
“Kami tidak boleh mencampuradukkan hal itu. Itu adalah keputusan FIFA.”
Layangkan Protes Resmi
Keputusan FIFA langsung memancing reaksi keras dari Federasi Sepak Bola Belgia. Dalam pernyataannya, federasi mengaku terkejut dan sedang mempelajari seluruh jalur hukum yang tersedia.
Mereka menilai keputusan FIFA bertentangan dengan Pasal 66.4 Kode Disiplin FIFA yang mengatur hukuman otomatis bagi pemain yang menerima kartu merah.
Selain itu, Belgia juga menilai keputusan tersebut tidak sejalan dengan Pasal 10.5 Regulasi Piala Dunia 2026 yang menyatakan pemain yang menerima kartu merah otomatis menjalani skorsing pada pertandingan berikutnya.
Pelatih Belgia Rudi Garcia menyindir keputusan FIFA dengan satir. Garcia menegaskan protes yang dilakukan Belgia bukan hanya demi kepentingan tim nasional.
“Saya tidak tahu kalau di Piala Dunia, tanggal 5 Juli ternyata adalah 1 April—Hari April Mop. Kami bukan membela tim nasional atau federasi. Kami membela sepak bola,”
kata Garcia.
Sementara itu, kiper Belgia Thibaut Courtois mengaku keputusan tersebut datang secara mendadak.
“Seandainya keputusan itu diumumkan lebih awal, mungkin kami bisa mempersiapkan diri secara mental dengan lebih baik, tapi kami akan siap. Mereka bermain dengan 11 pemain, bukan hanya Balogun,”
ujar dia.


























