Epidemiolog sekaligus pakar Global Health Security dari Griffith University dan Universitas YARSI, Dicky Budiman mengatakan cuaca panas ekstrem tidak hanya meningkatkan risiko heat stress dan heat stroke.
Tapi cuaca tersebut dapat memengaruhi pola penyakit yang ditularkan nyamuk, termasuk demam berdarah dengue (DBD).
Memang ada hubungan antara cuaca panas dengan DBD, tetapi tidak berarti semakin panas otomatis semakin banyak kasus DBD. Hubungannya dipengaruhi kombinasi suhu, kelembapan, curah hujan, perilaku manusia, sanitasi, kepadatan penduduk, dan pengendalian vektor,”
Menurut Dicky, suhu yang menghangat dapat mempercepat perkembangan larva Aedes aegypti. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi metabolisme nyamuk dan meningkatkan frekuensi gigitan.
Tidak hanya itu, suhu juga berpengaruh terhadap proses perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
Ketika suhu semakin hangat, perkembangan larva Aedes dapat menjadi lebih cepat, metabolisme nyamuk dan frekuensi gigitannya juga dapat meningkat. Perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk juga bisa menjadi lebih cepat,”
jelasnya.
Namun, Dicky mengingatkan hubungan antara suhu dan DBD bukanlah hubungan linier. Artinya, kenaikan suhu secara terus-menerus tidak otomatis membuat kasus DBD terus meningkat.
Kalau suhunya terlalu tinggi, kelangsungan hidup nyamuk justru bisa menurun. Jadi hubungan antara suhu dan DBD itu nonlinier, bukan semakin panas lalu kasusnya pasti semakin banyak,”
jelasnya.
Perlu Diwaspadai
Dalam konteks Indonesia, Dicky mengatakan peningkatan kasus DBD juga berkaitan dengan pola cuaca setelah hujan.
Hujan dapat meninggalkan genangan air yang menjadi tempat potensial bagi nyamuk Aedes berkembang biak. Ketika kondisi tersebut kemudian diikuti cuaca yang lebih hangat, populasi nyamuk dapat meningkat.
Setelah hujan, biasanya muncul banyak genangan. Kemudian beberapa waktu setelahnya cuaca menjadi lebih hangat. Kondisi seperti ini dapat mendukung peningkatan populasi Aedes,”
kata Dicky.
Karena proses tersebut tidak terjadi secara instan, peningkatan kasus DBD dapat muncul beberapa waktu setelah terjadi perubahan kondisi cuaca.
Biasanya ada time lag sekitar dua sampai delapan minggu antara perubahan cuaca dan lonjakan kasus demam berdarah. Tetapi waktunya dapat bervariasi tergantung kondisi masing-masing wilayah,”
ujarnya.
Dengan adanya jeda tersebut, Dicky menilai masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan sejak perubahan cuaca mulai terjadi, bukan menunggu sampai kasus DBD melonjak.
Panas Ekstrem
Dicky menegaskan peningkatan risiko DBD tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.
Suhu, kelembapan, curah hujan, sanitasi, kepadatan penduduk, hingga efektivitas pengendalian nyamuk saling berinteraksi dalam menentukan dinamika penularan.
Cuaca merupakan salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya. Pengendalian DBD tetap harus dilakukan secara terpadu, termasuk mengendalikan tempat perkembangbiakan nyamuk dan memperkuat surveilans penyakit,”
tambah Dicky.




















