Kalau kamu sering scroll media sosial pasti pernah melihat berbagai macam olahan dari ubi. Ada es krim ube, latte ube, cheesecake ube, sampai roti yang berbahan dasar ube.
Semuanya tampak cantik jika di pajang di feed instagram, tapi tahukah kamu kalau ube sebenarnya ada uwi ungu atau nama ilmiahnya adalah purple yam, yaitu umbi yang populer di Filipina.
Warnanya memang unik, yaitu ungu yang sangat cantik. Tapi, Indonesia ternyata punya umbi-umbian lokal yang nggak kalah dari ube.
Bahkan beberapa diantaranya sudah jadi bahan makan pokok sebelum nasi mulai mendominasi meja.
Tapi sayangnya, seiring dengan perubahan gaya hidup, banyak anak muda yang sudah mulai melupakan umbi lokal ini.
Padahal, selain enak umbi-umbian ini kaya akan nutrisi, dan punya segudang manfaat untuk kesehatan.
Penasaran apa aja? Yuk, kenalan lagi dengan “harta karun” pangan lokal Indonesia.
Talas, Si Umbi Andalan
Kalau dengar talas, kebanyakan orang mungkin langsung ingat talas Bogor. Ya nggak ada yang salah, sih karena talas bogor memang oleh-oleh yang sangat menarik
Dilansir dari Nestlé Indonesia, talas mengandung karbohidrat kompleks yang mudah dicerna sehingga cocok dikonsumsi semua usia, termasuk lansia dan orang yang sedang dalam masa pemulihan.
Talas juga mengandung protein lebih tinggi dibanding singkong dan ubi jalar, serta kaya vitamin C, kalsium, fosfor, zat besi, dan serat yang baik untuk pencernaan.
Teksturnya yang pulen membuat talas bisa diolah menjadi aneka makanan, mulai dari kukusan, keripik, hingga dessert kekinian.
Ganyong Mulai Dilirik
Nama ganyong mungkin terdengar asing bagi banyak anak muda. Padahal, umbi ini punya potensi menjadi pengganti tepung terigu.
Menurut Ma’soem University, tepung ganyong memiliki karakteristik yang mirip dengan terigu dan tapioka, tetapi secara alami bebas gluten.
Ganyong juga memiliki indeks glikemik lebih rendah sehingga lebih ramah bagi penderita diabetes atau orang yang sedang menjaga pola makan.
Kalau semakin banyak dimanfaatkan, ganyong juga bisa membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor.
Porang yang Mendunia
Siapa sangka mie shirataki yang sering muncul di menu diet ternyata berasal dari porang?
Berdasarkan penjelasan dari laman FKM Unair, porang kaya akan glukomanan, yaitu serat larut yang dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama, menjaga kadar gula darah, hingga membantu menurunkan kolesterol.
Meski begitu, porang tidak bisa langsung dimakan. Umbi ini harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu untuk menghilangkan kandungan kalsium oksalat yang bisa menyebabkan rasa gatal di mulut.
Gembili yang Terlupakan
Dulu, gembili menjadi makanan pokok di berbagai daerah di Jawa hingga Indonesia Timur. Kini, sangat sulit untuk menemukan tanaman ini kembali.
Padahal, menurut Halodoc gembili mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin, dan mineral yang baik untuk tubuh.
Karena dicerna lebih lambat, gembili juga membantu tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga cocok untuk menjaga pola makan.
Garut yang Ramah Lambung
Umbi garut memang belum sepopuler singkong atau ubi jalar. Namun, manfaatnya nggak bisa dipandang sebelah mata.
Umbi ini dikenal memiliki pati yang tinggi dan sering diolah menjadi tepung untuk membuat kue maupun makanan bayi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa umbi garut bisa membantu melindungi lambung dari iritasi maupun gastritis.
Nggak heran kalau garut sering disebut sebagai salah satu pangan lokal yang ramah untuk sistem pencernaan.
Gadung yang Unik
Kalau pernah makan keripik gadung, kamu mungkin nggak menyangka kalau umbi ini sebenarnya tidak boleh dimakan mentah.
Dilansir dari Alodokter, gadung harus melalui proses pengolahan khusus agar aman dikonsumsi. Setelah diolah dengan benar, gadung bisa menjadi sumber energi, membantu melancarkan pencernaan, menjaga daya tahan tubuh, hingga membantu mengontrol tekanan darah berkat kandungan serat, vitamin, antioksidan, dan kaliumnya.
Suweg yang Mulai Naik Daun
Suweg dulu identik dengan makanan saat musim paceklik. Sekarang, justru banyak yang menyebutnya sebagai superfood lokal.
Menurut Halodoc, suweg mengandung glukomanan dan memiliki indeks glikemik rendah sehingga cocok dikonsumsi oleh orang yang sedang diet maupun penderita diabetes.
Dibanding porang, suweg juga lebih mudah diolah menjadi berbagai hidangan tradisional.
Gembolo yang Kaya Manfaat
Gembolo mungkin masih terdengar asing di telinga banyak orang. Padahal, umbi ini tumbuh cukup banyak di Pulau Jawa.
Berdasarkan informasi dari Socfindo Conservation, gembolo mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, dan saponin.
Secara tradisional, umbi ini banyak dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, mulai dari rematik hingga diabetes. Meski demikian, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Taka, Umbi dari Pesisir
Satu lagi umbi lokal yang mulai jarang dikenal adalah taka. Tanaman ini banyak ditemukan di kawasan pantai hingga pulau-pulau kecil Indonesia.
Umbinya kaya karbohidrat sehingga sejak lama dimanfaatkan sebagai sumber pangan di berbagai wilayah Kepulauan Pasifik.
Selain diolah menjadi tepung, taka juga dikenal sebagai tanaman yang mampu bertahan di daerah kering karena umbinya dapat menyimpan cadangan air.
Popularitas ube series menunjukkan kalau umbi-umbian sebenarnya bisa tampil modern dan menarik. Dan di Indonesia pun punya banyak “saudara” ube yang nggak kalah keren.
Selain kaya nutrisi, umbi-umbian lokal juga menjadi bagian dari sejarah pangan Nusantara. Jadi, kalau suatu hari kamu melihat olahan berbahan umbi lokal di kafe atau pasar tradisional, mungkin sudah saatnya mencobanya.
Siapa tahu, makanan yang dulu dianggap kuno justru bakal jadi tren kuliner berikutnya



















