Kalau kamu sering scroll Pinterest, Instagram, atau TikTok buat cari inspirasi rumah, kemungkinan besar kamu bakal sering nemuin referensi rumah bergaya Japandi.
Punya dinding warna putih atau beige, furniture kayu, jendela besar, ruangan yang rapi, dan tanaman hijau di sudut rumah, yang kalau dilihat sekilas emang kelihatannya adem, minimalis, dan punya kesan mahal padahal dekorasinya yang ramai.
Tidak heran kalau Japandi banyak digemari, termasuk oleh generasi muda yang ingin punya rumah dengan tampilan simpel tetapi tetap estetik.
Tapi ada satu hal yang sering luput dari perhatianmu, ketika kamu terlalu fokus melihat foto referensi rumah Japandi dan lupa untuk mempertimbangan apakah desain tersebut cocok dan tahan di cuaca tropis Indonesia?
Karena rumah yang terlihat bagus di Pinterest belum tentu bisa langsung diterapkan begitu saja di Indonesia.
Pasalnya, Indonesia memiliki iklim tropis dengan suhu yang relatif panas, kelembaban tinggi, serta curah hujan yang cukup tinggi. Ini berbanding terbalik dengan gaya Japandi yang dibuat dan banyak diterapkan di negara dengan curah hujan rendah.
Hal ini salah satunya dibahas oleh akun TikTok @chandraurbanart yang mengulas mengenai tantangan menerapkan rumah Japandi di wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia.
Dalam unggahannya, ia menyebut rumah Japandi kerap menggunakan atap dengan overstek yang tidak terlalu lebar. Akibatnya, dinding dan jendela bagian luar bisa lebih mudah terkena air hujan.
Kalau hanya terjadi sesekali mungkin bukan masalah besar. Namun, ketika dinding terus-menerus terkena hujan, terutama saat musim penghujan, maka resiko kelembaban dan kerusakan lapisan cat bisa meningkat.
Dalam kondisi tertentu, bahkan setelah satu atau dua tahun kamu perlu untuk melakukan perawatan, karena cat dinding yang mengelupas setelah.
Lantas, apakah itu berarti kamu harus melupakan keinginan punya rumah Japandi? Tentu saja, tidak perlu.
Karena gaya Japandi tetap bisa diterapkan di Indonesia. Hanya saja, konsepnya memang perlu “di-upgrade” agar sesuai dengan iklim tropis.
Design Rumah Japandi
Japandi sendiri merupakan perpaduan antara gaya desain Jepang dan Skandinavia. Keduanya sama-sama mengutamakan kesederhanaan, fungsi, warna netral, material alami, serta ruangan yang terasa tenang dan tidak terlalu penuh.
Karena itu, rumah Japandi biasanya menggunakan warna seperti putih, krem, beige, dan abu-abu. Ditambah dengan penggunaan material seperti kayu, bambu, dan rotan untuk memberikan sentuhan natural.
Selain itu gaya ini juga punya pencahayaan alami, furniture minimalis, dan tata ruang yang rapi, tidak heran kalau rumah Japandi terlihat begitu menarik ketika di foto.
Masalahnya, konsep yang terlihat cantik di foto belum tentu otomatis cocok dengan kondisi tropis. Misalnya, rumah dengan bukaan besar dan perlindungan atap yang kcil bisa membuat dinding, pintu, serta jendela lebih sering terkena panas dan air hujan.
Padahal, dua hal tersebut merupakan faktor yang perlu diperhitungkan ketika membangun rumah di Indonesia. Jadi, bukan konsep Japandinya yang salah, tapi memang cara menerapkannya perlu disesuaikan.
Cuma Mikirin Aesthetic
Salah satu penyesuaian saat membangun atau merenovasi rumah adalah memperlebar overstek atap atau menambahkan kanopi.
Sederhananya, overstek merupakan bagian atap yang dibuat menjorok keluar melewati dinding rumah. Elemen ini bisa membantu mengurangi air hujan yang langsung mengenai dinding dan jendela.
Selain itu, overstek juga bisa memberikan perlindungan dari paparan sinar matahari langsung. Hasilnya, rumah tetap punya tampilan minimalis ala Japandi, tetapi bagian luarnya lebih terlindungi.
Tak hanya itu, kamu juga perlu memperhatikan pemilihan material yang mau digunakan. Untuk bagian eksterior, sebaiknya pilih material dan cat yang memang dirancang untuk menghadapi kondisi luar ruangan, termasuk kelembaban dan perubahan cuaca.
Jadi, jangan sampai baru beberapa tahun tinggal di rumah, kamu sudah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki fasad atau mengecat ulang dinding.
Enam Ciri Japandi
Kabar baiknya, kamu tidak harus menghilangkan semua karakter Japandi hanya karena tinggal di negara tropis. Justru, beberapa elemen khasnya masih sangat cocok untuk diterapkan.
1. Pertahankan Warna Netral
Putih, krem, beige, dan abu-abu masih bisa menjadi pilihan utama. Warna-warna tersebut memberikan kesan bersih, tenang, dan membuat ruangan terasa lebih luas.
Untuk bagian luar rumah, pastikan kamu memilih cat yang sesuai untuk eksterior dan kondisi cuaca tropis. Jadi, jangan cuma pilih warna karena bagus di Pinterest.
2. Masukkan Material Alami
Kayu, bambu, dan rotan merupakan elemen yang bisa langsung membuat rumah terasa lebih natural. Kamu bisa menerapkannya pada furnitur, pintu, panel dinding, plafon, hingga dekorasi.
Tanaman hijau juga bisa ditambahkan untuk membuat rumah terasa lebih hidup tanpa menghilangkan kesan minimalis.
3. Pilih Furniture yang Fungsional
Gaya Japandi bukan berarti kamu harus punya rumah dengan furnitur sesedikit mungkin. Karena gaya ini punya prinsip lebih kepada memilih barang yang memang memiliki fungsi dan tidak membuat ruangan terasa penuh.
Maka, pilih furniture dengan desain sederhana dan fungsi penyimpanan yang fungsional, karena bisa membantu rumah tetap rapi.
4. Gunakan Penyimpanan Tersembunyi
Kalau kamu tidak suka melihat barang berserakan, konsep Japandi ini sebenarnya cukup cocok. Kamu bisa saja menggunakan lemari built-in, rak dinding, kabinet tertutup, atau furnitur multifungsi.
Dengan begitu, barang-barang tetap bisa disimpan tanpa membuat ruangan kehilangan kesan clean.
5. Terapkan Ruang Terbuka
Open living space memang cocok dengan karakter Japandi. Kamu bisa membuat ruang keluarga, ruang makan, dan dapur menyatu agar rumah terasa lebih luas sekaligus membantu sirkulasi udara.
Namun, karena rumah berada di wilayah tropis, kamu tetap harus memperhitungkan posisi bukaan. Jangan sampai terlalu banyak membuka sisi rumah tanpa mempertimbangkan arah hujan dan panas matahari.
Kalau salah desain, bukannya adem rumah malah bisa terasa panas atau gampang kena tampias.
6. Maksimalkan Cahaya Alami
Jendela besar merupakan salah satu elemen yang membuat rumah Japandi terlihat menarik. Cahaya matahari yang masuk bisa membuat ruangan terasa lebih terang dan hangat.
Tetapi lagi-lagi, jangan lupakan gimana iklim di Indonesia. Kalau kamu mau jendelanya besar sebaiknya dilengkapi dengan overstek, kanopi, atau perlindungan lainnya agar air hujan tidak mudah masuk dan panas matahari tidak berlebihan.
Jadi, Apakah Rumah Japandi Cocok di Indonesia?
Jawabannya bukan tidak cocok, tetapi memang harus dimodifikasi. Rumah Japandi yang dibuat untuk Indonesia tidak harus sama persis dengan referensi yang kamu lihat dari Jepang atau negara-negara Skandinavia.
Justru, konsep tersebut bisa dimodifikasi dikit agar lebih sesuai dengan karakter rumah tropis. Atap bisa dibuat lebih melindungi, material eksterior pilih yang tahan cuaca, perhatikan ventilasi, dan rancang bukaan berdasarkan arah matahari serta hujan.
Dengan cara ini, kamu tetap bisa mendapatkan rumah dengan tampilan minimalis, natural, dan estetik tanpa perlu mengorbankan kenyamanan.
Pada akhirnya, membangun rumah bukan cuma soal “bagus atau tidak difoto”. Tapi rumah harus menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali setiap hari, termasuk ketika matahari sedang terik atau hujan turun berjam-jam.
Jadi, kalau kamu masih ingin punya rumah Japandi, tidak perlu buru-buru mencoret konsep tersebut dari daftar. Cukup ubah pendekatannya, bukan sekadar Japandi biasa tetapi Japandi yang sudah beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia.




















