Bukan sekadar buku panduan ibadah, komunitas anak muda asal Yogyakarta, SkeNU, menghadirkan karya yang mencoba melihat Salat dari sudut pandang lebih personal.
Buku yang dirilis sekitar Maret 2026 ini merangkum pengalaman spiritual dan hasil pengajian mereka dalam bentuk bacaan reflektif yang dekat dengan keseharian anak muda.
Buku tersebut lahir dari proses belajar para anggota SkeNU di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Yogyakarta, di bawah bimbingan Kiai Jadul.
Dari obrolan dan pengalaman selama mengikuti pengajian, mereka kemudian mengolahnya menjadi sebuah catatan tentang makna Salat dan relevansinya bagi kehidupan personal.
Inisiator sekaligus Koordinator SkeNU, Doel Rohman, mengatakan gagasan awal buku tersebut sebenarnya sederhana, yakni mendokumentasikan hasil belajar mereka selama berada di pesantren.
Naskah ini awalnya sekadar ingin mendokumentasikan hasil pengajian kami selama belajar di pondok. Kami mendapatkan satu makna tentang kenapa shalat itu penting dan relevan untuk diinternalisasi secara lebih personal, semacam rumusan atau teknologi diri agar kita bisa selaras dengan unsur-unsur alam,”
ujar Doel seperti dikutip dari laman NU Online, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menariknya, proses pembuatan buku ini dikerjakan dengan mengandalkan kemampuan internal anggota SkeNU yang sebagian besar berkecimpung di industri kreatif.
Naskah yang disusun Doel kemudian melalui proses penyuntingan sebelum diterjemahkan ke dalam bentuk visual oleh ilustrator Iqbal Mastermind.
Sementara itu, proses tata letak dikerjakan oleh Nabil hingga akhirnya buku tersebut siap dicetak.
Bukan Buku Fikih Formal
Salah satu hal yang membuat buku ini berbeda adalah pendekatan yang digunakan dalam menyampaikan pembahasan mengenai Salat. SkeNU sengaja tidak melibatkan pihak eksternal seperti pemuka agama atau ustaz senior dalam proses penyusunannya.
Hal tersebut dilakukan karena buku ini memang dimaksudkan sebagai dokumentasi atas interpretasi personal para anggota komunitas dalam memaknai ibadah.
Isinya enggak kaku seperti buku fikih formal. Kami ingin mengajak diri sendiri dan pembaca untuk memahami lebih dalam apa makna Salat dan signifikansinya bagi diri masing-masing,”
kata Doel.
Dengan pendekatan tersebut, buku ini tidak ditempatkan sebagai panduan untuk mengajarkan atau mengarahkan pembaca mengenai cara beribadah.
Sebaliknya, karya tersebut menjadi catatan perjalanan kolektif SkeNU dalam memahami kembali hubungan antara Salat, diri sendiri, dan kehidupan sehari-hari.
Yogya Art Book 2026
Buku tersebut kemudian diperkenalkan kepada publik bertepatan dengan perhelatan Yogya Art Book 2026 beberapa bulan lalu.
Meski pada awalnya hanya diniatkan sebagai catatan dari proses belajar bersama, karya tersebut ternyata mendapat sambutan cukup hangat.
Doel mengaku tidak menyangka buku yang awalnya dibuat sebagai dokumentasi internal itu mendapatkan perhatian lebih luas dari publik.
Pertama tentu terkejut dan tidak menyangka akan sejauh ini. Buku ini tidak ditujukan untuk mengajari orang, melainkan catatan proses kami. Terima kasih atas respons positif teman-teman semua,”
pungkasnya.




















