Perubahan suasana hati menjelang atau saat menstruasi merupakan hal yang cukup umum dialami perempuan.
Ada yang merasa lebih mudah tersinggung, sensitif, lelah, hingga mengalami perubahan nafsu makan dan sulit berkonsentrasi.
Ternyata perubahan tersebut bukan sekadar persoalan suasana hati. Siklus menstruasi melibatkan berbagai perubahan hormon yang dapat memengaruhi kondisi fisik sekaligus emosional perempuan.
Dilansir dari laman Halodoc (18 Juni 2026), berikut penjelasannya.
Fase Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi tidak hanya terjadi saat darah haid keluar. Setiap bulan, tubuh perempuan melewati beberapa fase yang ditandai dengan perubahan hormon. Berikut empat fase utama dalam siklus menstruasi:
- Fase Menstruasi Fase ini dimulai pada hari pertama haid. Pada tahap ini, lapisan dinding rahim yang sebelumnya menebal akan luruh dan keluar melalui vagina sebagai darah menstruasi.Fase ini umumnya berlangsung sekitar 3–7 hari. Pada fase ini, kadar hormon estrogen dan progesteron berada pada tingkat yang rendah. Kondisi tersebut juga dapat membuat sebagian perempuan merasa lebih mudah lelah, mengalami kram, atau mengalami perubahan suasana hati.
- Fase Folikular Pada tahap ini, hormon FSH (Follicle-Stimulating Hormone) membantu ovarium mematangkan sel telur. Di saat yang sama, kadar estrogen mulai meningkat. Hormon ini membantu membangun kembali lapisan dinding rahim yang sebelumnya luruh saat menstruasi.
- Fase Ovulasi Ovulasi adalah saat sel telur yang sudah matang dilepaskan dari ovarium. Proses ini dipicu oleh peningkatan hormon LH (Luteinizing Hormone). Setelah dilepaskan, sel telur bergerak menuju tuba falopi dan siap untuk dibuahi. Karena itu, ovulasi dikenal sebagai salah satu periode paling subur dalam siklus menstruasi.
- Fase Luteal Pada fase ini, bagian folikel yang sebelumnya melepaskan sel telur akan menghasilkan hormon progesteron. Progesteron membantu mempersiapkan dan mempertahankan lapisan dinding rahim jika terjadi kehamilan. Namun, jika sel telur tidak dibuahi, kadar progesteron dan estrogen akan kembali menurun.Penurunan hormon tersebut kemudian memicu luruhnya lapisan dinding rahim dan dimulainya menstruasi berikutnya. Pada fase inilah sebagian perempuan juga dapat mengalami PMS, seperti mudah lelah, perut kembung, atau nyeri payudara.
Hormon Memengaruhi Emosi
Perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron sepanjang siklus menstruasi dapat berkaitan dengan perubahan suasana hati.
Hormon-hormon tersebut berinteraksi dengan sistem saraf dan berbagai zat kimia di otak yang berperan dalam pengaturan emosi.
Itulah sebabnya, sebagian perempuan dapat merasa lebih bersemangat pada fase tertentu dalam siklus, tetapi menjadi lebih mudah lelah atau sensitif ketika mendekati menstruasi.
Perubahan Emosi
Menjelang menstruasi, kadar estrogen dan progesteron mengalami perubahan. Kondisi tersebut dapat disertai dengan gejala PMS, seperti mudah marah, lebih sensitif, cemas, sedih, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, hingga perubahan pola tidur dan nafsu makan.
Kemudian, perubahan suasana hati saat sebelum atau saat menstruasi juga dapat menjadi respons tubuh terhadap perubahan hormon. Misalnya premenstrual dysphoric disorder (PMDD), yaitu kondisi yang dapat menyebabkan gejala emosional dan fisik yang lebih berat dibandingkan PMS.
Dimiliki Semua Perempuan
Setiap perempuan dapat memiliki pola menstruasi yang berbeda. Namun, sebaiknya konsultasikan kondisi kepada tenaga medis jika mengalami nyeri menstruasi yang sangat berat, perdarahan berlebihan, siklus yang sangat tidak teratur, hingga perubahan suasana hati yang ekstrem.
Dengan memahami siklus menstruasi dan perubahan hormon di dalam tubuh, perempuan dapat lebih mengenali perubahan fisik maupun emosional yang dialaminya.
Pemahaman ini juga dapat membantu menentukan kapan suatu gejala masih tergolong wajar dan kapan butuh pemeriksaan.





















