Bayangin kamu masih kecil, tiba-tiba rambutmu berubah jadi gimbal, lalu orang tuamu nggak boleh sembarangan mencukurnya. Bahkan, sebelum rambut itu dipotong, kamu boleh mengajukan satu permintaan.
Kedengarannya seperti cerita film, tapi tradisi ini benar-benar hidup di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Anak-anak berambut gimbal atau yang kerap disebut anak bajang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat yang dikenal sebagai ruwatan rambut gimbal.
Rambut yang Bukan Sekadar Rambut


Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal dipercaya memiliki kaitan dengan cerita leluhur. Laman Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) menyebut salah satu versi legenda yang terkenal adalah mengaitkan rambut gimbal dengan Kyai Kolodete, tokoh yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Dieng.
Ada pula kepercayaan yang menghubungkannya dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kemunculan rambut gimbal biasanya dipercaya diawali demam tinggi. Setelah sembuh, rambut anak perlahan menggumpal hingga menjadi gimbal.
Karena dianggap sebagai sesuker atau sesuatu yang harus dibersihkan, rambut tersebut kemudian diruwat sebelum dipotong.
Harus Menunggu Anak Minta
Ini bagian yang paling unik. Rambut gimbal tidak boleh asal dicukur hanya karena orang tua ingin anaknya terlihat rapi.
Menurut sumber dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, ruwatan dilakukan ketika anak sudah meminta sendiri agar rambutnya dipotong.
Sebelum prosesi, anak juga akan menyampaikan permintaan atau bebana yang harus dipenuhi orang tuanya.
Permintaannya bisa macam-macam. Ada yang minta makanan, mainan, sepeda, pakaian, bahkan barang yang harganya cukup mahal.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, jika permintaan itu tidak dipenuhi, rambut anak dipercaya dapat kembali tumbuh gimbal setelah dipotong.
Bukan Sekadar Potong Rambut


Ruwatan juga punya rangkaian prosesi yang cukup panjang. Anak-anak terlebih dahulu menjalani jamasan atau penyucian diri menggunakan air dari sendang.
Setelah itu, mereka mengikuti kirab dengan pakaian adat Jawa menuju kompleks Candi Arjuna. Di sana, rambut gimbal dipotong satu per satu.
Potongan rambut kemudian dibungkus menggunakan kain putih dan dilarung ke aliran air yang menuju Sungai Serayu hingga bermuara ke Pantai Selatan. Prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol mengembalikan bala sekaligus harapan datangnya rezeki.
Kini Jadi Atraksi Budaya
Dulu, keluarga yang memiliki anak berambut gimbal harus menggelar ruwatan sendiri. Namun, tradisi tersebut kini juga dilakukan secara massal dalam Dieng Culture Festival (DCF).
Menurut laman wisata Kabupaten Banjarnegara, ruwatan rambut gimbal menjadi salah satu bagian penting dari festival yang memadukan budaya masyarakat, wisata alam Dieng, dan pemberdayaan warga lokal.
Jadi, kalau selama ini kamu mengira rambut gimbal cuma soal penampilan, tradisi anak bajang di Dieng punya cerita yang jauh lebih panjang. Mulai dari legenda leluhur, permintaan anak yang tak terduga, sampai rambut yang akhirnya dilarung ke aliran sungai.























