Indonesia diperkirakan akan mengalami inflasi pada Agustus 2026. Inflasi Indonesia diperkirakan naik melebihi 3 persen secara tahunan atau year on year (yoy), yang didorong oleh kelompok pangan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,25 persen secara year on year, atau naik dari Juli 2026 yang sebesar 2,88 persen.
Untuk inflasi Agustus 2026, saya memperkirakan inflasi umum naik menjadi sekitar 3,25 persen secara tahunan dari 2,88 persen pada Juli. Sementara secara bulanan kembali terjadi inflasi sekitar 0,27 persen setelah deflasi 0,14 persen pada Juli,”
kata Josua saat dihubungi Owrite Selasa, 1 September 2026.
Biang Kerok Inflasi


Josua menjelaskan, kenaikan utama berasal dari kelompok pangan bergejolak. Hal ini diantaranya harga daging ayam, cabai rawit, cabai merah, beras, dan ikan.
Pola ini penting karena inflasi Juli sebelumnya turun tajam berkat deflasi kelompok pangan bergejolak sebesar 1,68 persen secara bulanan, sehingga kenaikan Agustus sebagian merupakan normalisasi setelah basis yang rendah,”
jelasnya.
Josua menekankan, tekanan yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah inflasi inti yang diperkirakan naik menjadi 2,95 persen secara yoy, dari sebelumnya 2,67 persen. Kenaikan itu didorong oleh biaya pendidikan, harga emas, dan makanan olahan.
Artinya, kenaikan inflasi bukan lagi hanya persoalan harga pangan segar. Mulai terlihat kenaikan biaya yang lebih menyebar ke barang dan jasa yang lebih menetap,”
jelasnya.
Kendati demikian, Josua memperkirakan bahwa tekanan akan sedikit tertahan oleh harga yang diatur pemerintah. Hal ini terutama potensi penurunan tarif angkutan udara akibat harga bahan bakar penerbangan yang lebih rendah, serta penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan LPG nonsubsidi.
Kondisi ini kata Josua menunjukkan bahwa inflasi yang naik ke sekitar 3,25 persen belum mengkhawatirkan. Sebab masih berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Tetapi arahnya perlu dicermati. Risiko ke depan lebih banyak datang dari sisi penawaran daripada lonjakan permintaan,”
tegasnya.
MBG Bisa Dorong Inflasi


Di sisi lain, Josua menilai bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa meningkatkan tekanan harga jika produksi dan distribusi pangan, jika tidak mengimbanginya. Pertumbuhan uang beredar yang tetap positif juga dapat menambah tekanan apabila permintaan menguat lebih cepat.
Selain itu, risiko El Nino terhadap produksi pertanian dan pelemahan rupiah akibat ketidakpastian global dapat meningkatkan biaya bahan baku impor.
Dengan demikian, Josua memperkirakan inflasi di 2026 akan berada di sekitar 3,13 persen. Hal ini dengan risiko ke atas, bila konflik Timur Tengah kembali meningkatkan harga energi atau mendorong pelemahan rupiah.























