Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menyentil pemerintah daerah (Pemda), karena banyak menghabiskan anggaran belanja untuk perjalanan dinas hingga rapat.
Tito awalnya meminta Pemda, melaksanakan efisiensi belanja setelah pemerintah pusat memangkas transfer ke daerah (TKD). Ia mengatakan, Pemda jangan hanya melihat pemangkasan TKD sebagai pengurangan dana.
Jangan melihat template yang lama dengan keadaan baru menggunakan template yang lama, pasti kurang dianggap. Tapi yang harus dilakukan adalah melakukan exercise, yaitu efisiensi belanja,” ujar Tito dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit and Expo 2025, Jumat (31/10/2025).
Tito menjelaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memiliki dua komponen yakni, pendapatan dan belanja.
Untuk belanja, Tito menegaskan agar dilakukan efisiensi, utamanya pada pos belanja pegawai, kecuali gaji.
Tito mengatakan, hasil efisiensi belanja ini bisa dialihkan untuk program yang langsung menyentuh masyarakat.
Namun, dari hasil penyisirannya masih banyak Pemda yang menghabiskan anggaran untuk perjalanan dinas, rapat, hingga pemeliharaan perawatan.
Pasti banyak yang bilang kurang, kurang, kurang, kurang. Tapi begitu kita plototin isinya itu ternyata perjalanan dinasnya terlalu banyak, rapatnya terlalu banyak, pemeliharaan perawatan terlalu banyak,” tuturnya.
Maka dari itu, Tito menginstruksikan kepala daerah untuk berpikir menyesuaikan kondisi terkini. Menurutnya efisiensi bisa dilakukan, dia mencontohkan kondisi pada saat Covid-19.
WFH saya ingat betul pernah 75 persen, yang di kantor hanya 25 persen. Kerjaan jalan juga, artinya apa? Jangan-jangan kebanyakan ASN kita ini, kebanyakan pegawai,” katanya.


