Hubungan panas antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wali Kota New York terpilih Zohran Mamdani akhirnya mencair.
Keduanya terlihat tersenyum hangat saat bertatap muka di Gedung Putih, Jumat waktu setempat, dalam pertemuan yang sebelumnya diprediksi berlangsung tegang.
Ini menjadi pertemuan pertama bagi kedua tokoh yang selama berbulan-bulan saling melontarkan kritik pedas di media.
Mamdani, seorang politikus demokrat sosialis yang baru memenangkan kursi wali kota awal bulan lalu, meminta agenda empat mata dengan Trump untuk membahas dua isu terbesar yang membayangi warga New York tingginya biaya hidup dan keamanan publik.
Namun suasana yang diantisipasi penuh ketegangan justru berubah cair. Trump bahkan memberikan pujian atas kemenangan Mamdani sesuatu yang sangat jarang ia lakukan kepada lawan politik, apalagi seseorang yang pernah ia sebut sebagai “radikal kiri”, “komunis”, hingga “pembenci Yahudi”. Tuduhan tersebut dilontarkan tanpa bukti.
Kami ternyata sepaham dalam lebih banyak hal daripada yang saya duga,”
Trump ketika mengundang jurnalis memasuki Ruang Oval setelah pertemuan tertutup.
Kami punya tujuan sama: memastikan New York dapat kembali bangkit.”
Trump.
Mamdani membalas pernyataan tersebut dengan nada positif.
Pembicaraan ini sangat produktif. Kami mengedepankan rasa hormat, kecintaan pada kota ini, dan kebutuhan mendesak untuk memberikan keterjangkauan bagi warga,”
Trump, dikutip Reuters.
Suasana Hangat
Perubahan sikap Trump terbilang drastis. Ketika Mamdani mulai unggul dalam jajak pendapat, Trump sempat mengancam akan memotong pendanaan federal untuk New York kota berpenduduk 8,5 juta jiwa, di mana 40% warganya adalah imigran.
Namun nada keras itu perlahan mereda menjelang pertemuan. Dalam wawancara radio, Trump berkata,
Saya memang keras kepadanya. Tapi saya rasa kami bisa akur. Kami sama-sama ingin New York kembali kuat.”
Trump.
Warga sempat mengantisipasi situasi panas di Washington, mengingat pertemuan-pertemuan sebelumnya antara Trump dan beberapa tokoh politik sering berakhir penuh konfrontasi.
Tetapi suasana kali ini terbilang damai, meski Mamdani sebelumnya mengakui memiliki “perbedaan besar” dengan presiden tersebut.
Mamdani, 34 tahun, lahir di Uganda dan akan menjadi wali kota Muslim dan Asia Selatan pertama dalam sejarah New York.
Kemenangannya memicu diskusi besar di tubuh Partai Demokrat, yang tengah terbelah secara ideologis dan tidak berkuasa di tingkat nasional.
Meski sering dicap ekstrem oleh lawan politiknya, Mamdani justru mengusung model demokrasi sosialis ala negara-negara Nordik, dengan fokus pada kebijakan praktis seperti penurunan biaya sewa, harga bahan pokok, transportasi, dan pengasuhan anak.
Isu tersebut sangat relevan karena biaya hidup di New York hampir dua kali lipat rata-rata nasional.
Sementara itu, ekonomi menjadi isu sensitif bagi Trump. Survei Reuters/Ipsos pekan ini menunjukkan hanya 26% warga yang menilai Trump berhasil menangani masalah biaya hidup.
Mamdani akan resmi menjabat pada 1 Januari mendatang. Ia menegaskan siap bekerja sama dengan presiden, selama kebijakan yang dihasilkan menguntungkan kota New York.
Saya akan bekerja sama dengan Presiden Trump untuk kebijakan yang memberi manfaat bagi warga. Namun jika ada kebijakan yang merugikan New Yorkers, sayalah orang pertama yang akan menolaknya,”
Mamdani sebelum bertolak ke Washington.


