Hubungan antara sepak bola Indonesia dengan politik bukanlah isu baru. Dari era 90-an hingga sekarang, PSSI dianggap kerap dijadikan panggung kepentingan kekuasaan.
Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali, memberikan gambaran bagaimana olahraga paling populer di Indonesia itu nyaris tidak lepas dari aroma politik.
Sekarang ini analisa saya sebagai Save Our Soccer (SOS). Kompetisi sepak bola indonesia ketika APBD masih digunakan, itu juaranya identik dengan daerah yang menampungnya (memberi suntikan dana berjalannya liga, – red),”
ujarnya, kepada owrite.id, belum lama ini.
Artinya, dahulu bikin juara itu sudah gampang untuk menarik massa. Dan itu juga menurut saya yang digunakan oleh Jokowi. Jokowi ujuk-ujuk datang di Piala Presiden sepanjang dia memimpin Indonesia, kemudian keluarin inpres percepatan bangun sepak bola nasional. Sepak bola itu seksi banget,”
tambahnya.
Ketua PSSI dari Lingkaran Politik
Hal senada juga disampaikan oleh Pengamat Sepak Bola, Kesit Budi Handoyo yang menyebut aroma politik di PSSI sangat kental. Menurutnya, hal itu karena ketua PSSI kerap diambil dari lingkungan pemerintah atau lingkaran politik.
Saya masuk dari zaman Pak Ardono itu Sekmil. Kemudian masuk Pak Soeratin, kemudian masuk Agung Gumelar, Menhub. Dari Agung Gumelar ini mulai deh nih, ada perubahan. Tapi kemudian masuk yang namanya Nurdin Halid politikus Golkar,”
ucapnya.
Kemudian mulailah PSSI masuk orang-orang yang sebenernya jauh dari politik. Waktu itu ada Djohar Arifin, dia sebenernya praktisi lah ya. Lalu Iwan bule, ujuk-ujuk dari Kapolda,”
sambungnya.
Menurut Kesit, Indonesia sangat sulit untuk bisa memisahkan antara sepak bola dengan politik. Karena faktanya diisi oleh orang-orang politik.
Sangat bisa (dipisahkan), tapi kan kembali kepada pemilik suara. PSSI ini kan oke lah sepak bolanya punya rakyat Indonesia. Tapi PSSI ini kan hanya milik 100 orang. Mereka inilah yang punya hak untuk memilih. Mau dikemanakan nih PSSI. Jadi jangan lupa juga bahwa kepentingan-kepentingan di masing-masing daerah ini juga masih ada dalam sepak bola Indonesia. Jadi kalau kemudian di daerah juga masih dikuasai oleh pemimpin-pemimpin daerah, di wilayah itu bagian dari politik di daerah itu juga,”
tandasnya.

