Membahas kuliner khas Indonesia memang tidak ada habisnya. Dari Sabang sampai Marauke, kuliner Indonesia sangat beragam. Dari yang namanya aneh, hingga yang bikin terkaget-kaget.
Salah satunya adalah kue memek. Eits, pikirannya jangan traveling dulu yah. Kue memek merupakan makanan khas dari Kabupaten Simeulue, Aceh.
Dari tampilannya, makanan ini seperti bubur. Namun cita rasanya manis karena berbahan dasar pisang dan beras ketan. Makanan tradisional ini banyak ditemukan saat bulan Ramadan.
Nah, kali ini owrite akan membagikan asal usul dan resep kue memek. Berikut rangkumannya dari berbagai sumber, Rabu, 21 Januari 2026.
Asal Usul Kue Memek
Kue memek diciptakan pada masa penjajahan Jepang, ketika warga berupaya menyembunyikan beras mereka agar tidak disita oleh pasukan tentara Jepang.
Zaman dulu, warga Aceh memutuskan untuk tidak memasaknya karena asap hasil pembakaran bisa terlihat oleh tentara Jepang.
Kue memek sendiri berasa dari bahasa lokal “mamemek” yang berarti mengunyah. Hal itu merujuk pada cara nenek moyang mereka mengunyah beras ketan mentah dengan pisang sebagai bekal saat masa penjajahan Jepang agar tidak ketahuan tentara.
Meski memiliki nama yang tampak nyeleneh, kue Memek ini memiliki sejarah mendalam bagi masyarakat Aceh.
Ditetepakan jadi Warisan Budaya Tak Benda
Kue memek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dalam sidang yang digelar di Hotel Millennium Jakarta pada 13-16 Agustus 2019.
Hingga kini, makanan tersebut masih populer di kalangan masyarakat Aceh. Bahkan jadi makanan wajib di saat momen Ramadan.
Cara Membuat Kue Memek
Makanan ini dibuat dengan menggongseng atau menyangrai beras ketan. Kemudian pisang ditumbuk kasar dan dicampur dengan beras ketan, santan, garam, dan gula. Proses ini bisa memakan waktu selama satu jam.
Terdapat dua jenis memek, yaitu memek basah dan memek kering. Memek kering terbuat dari beras gongseng yang dicampur dengan kelapa parut dan gula. Sedangkan memek basah dicampur dengan santan sehingga memiliki tekstur seperti bubur.
