Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Cari Tahu

Anak Suka Berjalan Jinjit, Normal atau Tanda Gangguan Tumbuh Kembang?

Berjalan jinjit dapat ditemukan pada anak yang baru mulai berjalan mandiri karena berkembangkan kemampuan motorik.

Ilustrasi anak berjalan jinjit (Sumber:Unsplash/Valeriia Skrylioua)
Ilustrasi anak berjalan jinjit (Sumber:Unsplash/Valeriia Skrylioua)

Melihat anak berjalan jinjit mungkin tampak menggemaskan. Namun, jika kebiasaan ini terus berlanjut ketika anak bertambah besar, orang tua perlu memperhatikan pola berjalannya. 

Berjalan jinjit atau toe walking merupakan kondisi ketika anak melangkah dengan bertumpu pada bagian depan telapak kaki sehingga tumit tidak menyentuh lantai.

Kebiasaan ini cukup umum ditemukan pada anak yang baru belajar berjalan. Sebagian besar anak akan beralih ke pola berjalan dengan menapak menggunakan tumit seiring perkembangan kemampuan motoriknya.

Iklan

Mengapa Anak Suka Jinjit?

Ada beberapa alasan anak berjalan jinjit. Pada anak yang baru belajar berjalan, kebiasaan ini dapat menjadi bagian dari proses perkembangan motorik. Sebagian anak juga melakukannya karena kebiasaan, terutama ketika berjalan tanpa alas kaki.

Dalam sejumlah kasus, berjalan jinjit dapat berkaitan dengan otot betis atau tendon Achilles yang kaku atau memendek. Kondisi tertentu pada sistem saraf, otot, maupun perkembangan anak juga dapat memengaruhi pola berjalan.

Dalam jurnal Current Problems in Pediatric and Adolescent Health Care tahun 2017 menjelaskan bahwa berjalan jinjit yang menetap setelah usia dua hingga tiga tahun perlu dievaluasi karena dapat berkaitan dengan kondisi seperti cerebral palsy dan distrofi otot. 

Kapan dianggap Tidak Wajar? 

Berjalan jinjit dapat ditemukan pada anak yang baru mulai berjalan mandiri. Seiring bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan motorik, kebiasaan tersebut umumnya berkurang.

Namun orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika anak masih berjalan jinjit setelah usia dua tahun.

Artinya, usia dua tahun dapat menjadi patokan untuk mulai melakukan evaluasi, bukan batas yang otomatis menandakan adanya penyakit. 

Dokter akan mempertimbangkan riwayat perkembangan anak, kemampuan berjalan, kelenturan otot, serta hasil pemeriksaan fisik untuk menentukan apakah kebiasaan tersebut memerlukan penanganan.

Tanda yang Perlu Diwaspadai

Orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan usia anak, tetapi juga perubahan pola berjalan dan gejala yang menyertainya. Beberapa tanda berikut perlu diperiksakan kepada dokter:

  • Berjalan jinjit hanya dengan satu kaki. Pola yang tidak simetris dapat berkaitan dengan perbedaan fungsi saraf, otot, atau struktur tungkai.
  • Tumit sulit menapak ke lantai. Kondisi ini dapat mengindikasikan keterbatasan gerak pergelangan kaki atau kekakuan otot dan tendon.
  • Anak sering terjatuh atau kesulitan menjaga keseimbangan. Kesulitan koordinasi yang menyertai pola berjalan jinjit perlu dievaluasi.
  • Muncul nyeri atau perubahan cara berjalan. Keluhan nyeri, pincang, atau perubahan pola berjalan yang sebelumnya tidak ada sebaiknya tidak diabaikan.
  • Terdapat keterlambatan perkembangan lainnya. Misalnya keterlambatan kemampuan motorik, bicara, atau menunjukkan perbedaan perkembangan lain yang mengkhawatirkan.

Berjalan jinjit tidak selalu menandakan masalah tumbuh kembang. Namun, orang tua sebaiknya tidak mengabaikan kebiasaan yang menetap, tidak simetris, atau disertai keluhan lain. 

Evaluasi sejak dini membantu memastikan anak mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Iklan