Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Benarkah Tidur Pakai AC Bikin Anak Batuk Pilek hingga Paru-Paru Basah? Ini Penjelasan Dokter

Kebiasaan menyalakan air conditioner (AC) saat anak tidur kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari tubuh kedinginan, batuk pilek yang tak kunjung sembuh

Ilustrasi anak-anak tidur pakai AC
Ilustrasi anak-anak tidur pakai AC (Foto ini dibuat dengan bantuan IA)

Kebiasaan menyalakan air conditioner (AC) saat anak tidur kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari tubuh kedinginan, batuk pilek yang tak kunjung sembuh, hingga paru-paru basah. Namun, benarkah anggapan tersebut?

Dokter Spesialis Anak, dr. Abdurrahman Hasanuddin, Sp.A, menegaskan bahwa udara dingin dari AC bukan penyebab paru-paru basah.

Infeksi saluran pernapasan yang dapat memicu kondisi tersebut disebabkan oleh paparan virus atau bakteri, bukan semata-mata karena suhu ruangan yang dingin.

Iklan

Faktanya: Hembusan angin dingin dari AC SAMA SEKALI BUKAN penyebab Paru-Paru Basah! Infeksi saluran pernapasan itu murni disebabkan oleh paparan VIRUS atau BAKTERI,”

jelas dr. Abdurrahman dikutip dari Threads @dr.maman.sp.a.

Meski begitu, bukan berarti penggunaan AC di kamar anak tidak memiliki risiko. Menurut Abdurrahman, anak yang kerap bersin atau batuk saat berada di ruangan ber-AC bisa mengalami iritasi saluran pernapasan akibat kualitas udara yang buruk maupun udara yang terlalu kering.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kebersihan filter AC. Filter yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat menumpuknya debu, tungau, dan spora jamur. Ketika AC dinyalakan, partikel tersebut dapat tersebar kembali ke udara dan terhirup oleh anak.

Peradangan Saluran Pernapasan

Kondisi ini berpotensi memicu peradangan saluran pernapasan akibat alergi atau rinitis alergi. Karena itu, orang tua perlu memastikan filter AC dibersihkan secara rutin, terutama jika anak sering mengalami bersin atau hidung meler ketika berada di dalam kamar.

Selain kebersihan filter, kelembapan udara juga perlu diperhatikan. AC dapat mengurangi kelembapan ruangan sehingga udara menjadi lebih kering, terutama jika suhu diatur terlalu rendah.

Udara kering ini membuat mukosa (lapisan lendir pelindung) di hidung dan tenggorokan balita ikut mengering, sehingga pertahanan alaminya rapuh dan sangat mudah teriritasi,”

ujarnya.

Kondisi tersebut dapat membuat saluran pernapasan anak lebih mudah mengalami iritasi. Namun, gejala seperti batuk dan bersin tidak selalu berarti anak mengalami infeksi akibat AC.

Orang tua perlu memperhatikan gejala yang muncul, durasinya, serta kemungkinan faktor pemicu lain, termasuk alergi.

Dr. Abdurrahman menegaskan bahwa penggunaan AC untuk anak pada dasarnya diperbolehkan selama pengaturannya tepat dan kebersihan perangkat terjaga.

Ia menyarankan orang tua mengatur suhu AC pada kisaran 24–26 derajat Celsius, mengarahkan hembusan angin ke atas atau dinding agar tidak langsung mengenai wajah anak, serta membersihkan filter AC secara rutin.

Kesimpulannya, menyalakan AC untuk balita sangat BOLEH agar tidurnya nyenyak dan tidak rewel kepanasan,”

katanya.

Meski demikian, orang tua tidak boleh mengabaikan batuk atau pilek yang berlangsung lama. Abdurrahman mengingatkan bahwa batuk berkepanjangan, hidung meler yang berulang terutama pada pagi hari, atau napas berbunyi seperti “ngik-ngik” perlu mendapat evaluasi medis lebih lanjut.

Gejala tersebut dapat berkaitan dengan masalah saluran pernapasan yang membutuhkan pemeriksaan spesifik. Dengan demikian, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan AC atau menganggap semua keluhan akan hilang hanya dengan menaikkan suhu ruangan.

Pada akhirnya, AC bukan penyebab langsung paru-paru basah. Penggunaan yang tepat, kebersihan filter, dan kualitas udara di kamar menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk membantu menjaga kenyamanan serta kesehatan saluran pernapasan anak.

Iklan