Pernah merasa bersalah setelah bertengkar dengan pasangan, bahkan sampai meragukan ingatan dan perasaan sendiri? Jika hal ini terjadi berulang kali, kamu perlu waspada.
Bisa jadi, kamu sedang mengalami gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, hingga penilaian dirinya sendiri.
Dalam hubungan asmara, perbedaan pendapat dan pertengkaran merupakan hal yang wajar. Namun, situasinya jadi tidak sehat ketika pasangan terus-menerus menyangkal kejadian yang sebenarnya, memutarbalikkan fakta, atau mengabaikan perasaan dan kegelisahan yang kamu sampaikan.
Iklan
Jika perilaku tersebut terjadi berulang kali, jangan buru-buru menganggapnya sebagai bagian biasa dari hubungan. Pola seperti ini perlu dikenali agar kamu bisa mengevaluasi hubungan dan mempertimbangkan langkah yang tepat untuk melindungi diri.
Menurut Alodokter, yang dikutip pada Senin, 26 Oktober 2026, gaslighting bukan sekadar pertengkaran biasa. Manipulasi yang berlangsung terus-menerus bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.
Selain itu, meragukan penilaiannya sendiri, hingga merasa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Maka itu, penting untuk mengenali tanda-tanda gaslighting dalam hubungan asmara.
Lantas, apa saja ciri-ciri pasangan yang melakukan gaslighting, dan mengapa perilaku tersebut perlu jadi pertimbangan untuk mengevaluasi atau meninggalkan hubungan?
Ciri-Ciri Pasangan yang Melakukan Gaslighting
Berikut ciri pasangan yang perlu diwaspadai dalam hubungan sehari-hari.
1. Selalu membuat kamu merasa bersalah
Saat kamu mengungkapkan kekecewaan, pasangan justru membalikkan keadaan hingga kamu merasa dirimu adalah sumber masalahnya. Contohnya, ketika kamu protes karena dia sering menghilang tanpa kabar, dia malah berkata, “Kamu tuh terlalu posesif. Pantas aku malas ngabarin.“
2. Membuat kamu meragukan ingatan sendiri
Pasangan menyangkal perkataan atau perbuatannya hingga kamu mulai mempertanyakan ingatan sendiri. Misalnya, ketika kamu mengingatkan janji yang pernah dibuat, dia justru menjawab, “Aku nggak pernah janji begitu. Kamu salah ingat kali.“
Hubungan yang Viral di Media Sosial (Foto: Magnific)
3. Menganggap perasaanmu berlebihan
Setiap kali kamu merasa terluka, pasangan justru meremehkan emosimu alih-alih mencoba memahami. Seperti saat kamu sakit hati karena dijadikan bahan lelucon di depan teman-temannya, dia malah berkata, “Gitu aja baper. Kamu terlalu sensitif, deh.“
4. Memutarbalikkan fakta
Pasanganmu seringkali mengubah cerita atau menggunakan ucapanmu di luar konteks agar dirinya terlihat benar dan kamu menjadi pihak yang disalahkan. Misalnya, dia ketahuan berbohong, tetapi justru berkata, “Aku bohong karena kamu selalu bikin aku terpaksa nutupin sesuatu.“
5. Membuatmu meragukan diri sendiri
Kamu mulai mempertanyakan ingatan, keputusan, dan penilaian sendiri karena terus-menerus dibuat merasa salah oleh pasangan. Seperti setelah berulang kali disalahkan saat bertengkar, kamu mulai berpikir, “Jangan-jangan memang aku yang terlalu sensitif dan selalu bikin masalah.”
Dampak Gaslighting bagi Kesehatan Mental
Jika terjadi terus-menerus, gaslighting dapat mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Melansir dari Cleveland Clinic, salah satu dampak yang paling kelihatan saat kamu menjalin hubungan dengan orang gaslighting adalah mulai memudarnya kepercayaan diri, bahkan tidak mampu mengambil keputusan sendiri, dan selalu bergantung pada pasanganmu.
Kamu juga bisa juga mengalami kecemasan, merasa bersalah tanpa alasan yang jelas, hingga kesulitan mempercayai orang lain. Bahkan memilih untuk menjauhi teman dan keluargamu karena malu menceritakan masalah hubungan atau takut tidak dipercaya.
Kenapa Harus Meninggalkan Pasangan yang Gaslighting?
Mempertahankan hubungan memang membutuhkan kompromi. Namun, kompromi berbeda dengan membiarkan diri terus-menerus dimanipulasi.
Ada beberapa alasan mengapa kamu perlu mempertimbangkan untuk meninggalkan pasangan yang terus melakukan gaslighting.
1. Kamu berhak mendapatkan hubungan yang sehat
Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan perasaan tanpa takut diremehkan atau disalahkan terus-menerus. Kamu tidak seharusnya menghabiskan energi hanya untuk membuktikan bahwa perasaanmu masuk akal.
2. Kamu tidak bisa mengubah pasangan sendirian
Perubahan membutuhkan kemauan dari kedua pihak. Kamu boleh menyampaikan dampak perilakunya, tetapi kamu tidak bertanggung jawab untuk mengubah seseorang yang terus menolak mengakui kesalahannya.
Jika pola manipulasi tetap berulang meski sudah dibicarakan, kamu berhak mengevaluasi apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan.
3. Kesehatan mentalmu juga penting
Jangan sampai kamu terus-menerus merasa cemas, takut membuat kesalahan, atau kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri demi mempertahankan hubungan.
Meninggalkan hubungan yang terus melukai bukan berarti kamu gagal dalam percintaan. Keputusan tersebut bisa menjadi langkah untuk melindungi diri sendiri.
4. Cinta bukan alasan untuk menerima manipulasi
Meminta maaf saja tidak cukup jika perilaku yang sama terus berulang. Perubahan perlu terlihat melalui sikap yang konsisten, tanggung jawab atas kesalahan, dan penghormatan terhadap batasan pasangan.
Kamu tidak harus menunggu sampai keadaan semakin buruk untuk memutuskan bahwa hubungan tersebut tidak lagi baik bagimu.
Jadi, kamu tidak perlu membuktikan bahwa pasangan adalah orang jahat untuk memutuskan hubungan yang tidak lagi sehat bagimu.
Cinta seharusnya memberikan ruang untuk bertumbuh, bukan membuatmu terus meragukan diri sendiri. Jika hubungan justru mengikis harga diri dan rasa aman mu, memilih pergi bukanlah tindakan egois, karena kamu juga berhak merasa dihargai dan menjalani hidup dengan tenang.