Buat Gen Z, perbedaan kecil seperti ini ternyata bisa mengubah vibes sebuah percakapan. Tak heran kalau gaya mengetik menggunakan huruf kecil semua atau lowercase makin populer hingga dikenal dengan istilah typing cantik dan typing ganteng.
Tapi fenomena ini bukan hanya soal ikut-ikutan tren, di media sosial cara mengetik juga menjadi bagian dari estetika dan cara seseorang membangun kesan ketika berkomunikasi.
Dilansir dari akun Instagram @youthlabzine, bagi Gen Z, mengetik bukan cuma soal kata-kata, tetapi juga estetika, dan penggunaan lowercase dianggap memberikan kesan effortless, santai, dan chill.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat gaya mengetik ini begitu digemari?
Typing Cantik vs Typing Ganteng
Kalau diperhatikan, setiap orang punya gaya mengetik yang khas. Ada yang suka menulis semua kalimat menggunakan huruf kecil, ada pula yang memilih menyingkat kalimatnya agar terlihat lebih simpel.
Nah, dari kebiasaan kecil inilah muncul istilah typing cantik dan typing ganteng yang ramai digunakan di kalangan anak muda.
Typing cantik sendiri biasanya merujuk pada gaya mengetik yang terlihat manis, lembut, dan aesthetic. Kalimatnya cenderung sederhana, menggunakan huruf kecil, serta tidak dipenuhi tanda baca atau emoji berlebihan.
Contohnya, “hari ini capek banget, pengen tidur aja” atau “makasih yaa udah nemenin aku”.
Sementara itu, typing ganteng lebih identik dengan gaya mengetik yang simpel, cool, dan terkesan santai. Pesannya langsung ke inti tanpa banyak tambahan kata.
Misalnya, “udah sampai rumah?” atau “oke, nanti gue kabarin”.
Meski istilahnya terdengar berbeda, keduanya punya benang merah yang sama, yaitu tulisan dibuat sesederhana mungkin agar terlihat natural dan tidak berlebihan.
Tentu saja, typing cantik dan typing ganteng bukan kategori bahasa yang baku. Istilah ini lebih banyak digunakan sebagai label populer di media sosial untuk menggambarkan gaya mengetik yang dianggap menarik.
Huruf Kecil
Pernah merasa chat yang ditulis menggunakan huruf kecil semua terlihat lebih kalem dibandingkan kalimat yang diawali huruf kapital?
Menurut penjelasan akun Instagram @youthlabzine, gaya mengetik lowercase identik dengan kesan effortless, aesthetic, dan chill hingga tulisan terasa lebih kasual, seolah-olah pengirimnya sedang mengobrol langsung dengan teman.
Coba bandingkan dua pesan berikut, “aku kangen kamu deh” sama “AKU KANGEN KAMU DEH”.
Pesan pertama terasa seperti ungkapan rindu yang disampaikan secara santai. Sementara itu, pesan kedua terlihat lebih ekspresif, seolah-olah pengirimnya sedang berteriak karena terlalu kangen.
Hal serupa juga terlihat dalam percakapan sehari-hari. Kalimat “gila ini keren sih” memberikan kesan kagum yang tetap santai, sedangkan “GILA INI KEREN SIH” kesannya jadi lebih heboh dan excited.
Artinya, bentuk tulisan dapat memengaruhi cara pembaca menangkap suasana sebuah pesan. Buat sebagian Gen Z, lowercase akhirnya menjadi pilihan karena terasa lebih sesuai dengan gaya percakapan mereka yang kasual.
Jadi, gaya lowercase memang lebih cocok digunakan dalam percakapan santai jika pengirim dan penerima sama-sama nyaman dengan gaya tersebut.
Sedangkan untuk urusan surat resmi, tugas akademik, lamaran kerja, atau komunikasi profesional, tetap gunakan penulisan yang sesuai kaidah.
Tapi bukan berarti orang yang ngetik huruf kapital di awal kalimat berarti tidak ikut tren atau kurang keren. Karena typing cantik dan typing ganteng hanyalah salah satu cara Gen Z mengekspresikan diri di ruang digital.
Jadi, kalau kamu melihat teman mengetik semuanya dengan huruf kecil, belum tentu dia malas menekan tombol Shift. Bisa jadi, memang begitu cara dia membangun suasana dalam percakapan.
Sekarang tinggal pilih: kamu tim typing cantik, typing ganteng, atau tim HURUF KAPITAL kalau lagi excited?