Melansir dari unggahan Instagram @malakaproject.id pada Jumat, 6 November 2026, gerakan ini terinspirasi dari pengalaman warganet Brasil dalam menghadapi hoaks dan buzzer menjelang pemilu.
Pesannya sederhana yaitu jangan ikut menaikkan popularitas konten yang justru ingin dilawan.
Konten Buzzer Viral
Pernah menemukan unggahan yang bikin emosi sampai rasanya ingin langsung membalas di kolom komentar? Atau malah ikut membagikannya supaya orang lain tahu betapa keliru nya informasi tersebut?
Nah, ternyata kebiasaan seperti ini justru bisa menjadi keuntungan bagi pemilik konten.
Tanpa disadari, komentar bantahan, makian, hingga aksi share konten ternyata bisa dihitung sebagai engagement oleh algoritma media sosial.
Artinya, meskipun niat kita ingin meluruskan informasi, interaksi tersebut tetap bisa membuat unggahan semakin ramai.
Dalam unggahan yang dibagikan Windah Basudara, dijelaskan bahwa buzzer memang berupaya memenangkan persaingan algoritma agar kontennya muncul di linimasa lebih banyak pengguna, termasuk mereka yang belum terlalu memahami isu yang sedang dibicarakan.
Jadi, semakin banyak orang terpancing untuk berkomentar atau membagikan unggahan tersebut, semakin besar pula peluang kontennya mendapatkan perhatian.
Itulah mengapa mengajak berdebat di kolom komentar justru bisa membuat strategi buzzer berjalan sesuai tujuan.
Tanpa Memberi Panggung
Lantas, kalau menemukan konten buzzer atau misinformasi, kita harus bagaimana? Dalam gerakan #cuekinbuzzer, ada tiga langkah yang bisa dilakukan.
1. Cuekin, jangan kasih interaksi
Pertama, jangan buru-buru berkomentar meskipun isi unggahannya bikin geram. Cukup lewatkan atau swipe konten tersebut tanpa memberikan interaksi apa pun.
Hindari memberikan like, dislike, komentar, membagikan ulang, menyimpan, hingga mengutip unggahan tersebut.
Intinya, jangan sampai emosi membuat kita justru ikut membantu menaikkan engagement konten yang ingin dilawan.
2. Mau membantah dengan unggahan baru!
Bukan berarti informasi keliru harus dibiarkan begitu saja. Kamu tetap bisa membuat bantahan atau menyampaikan fakta yang sebenarnya, tetapi jangan sampai ikut mempromosikan unggahan aslinya.
Misalnya, ketika menemukan video berisi informasi menyesatkan, kamu bisa membuat konten baru untuk meluruskan informasi tersebut. Hindari menggunakan fitur stitch atau menyertakan tautan langsung ke unggahan buzzer.
Kalau memang perlu menggunakan tangkapan layar sebagai bukti, jangan lupa sensor nama akun dan username-nya. Tujuannya agar orang lain tidak penasaran lalu mencari unggahan aslinya.
3. Naikkan engagement konten yang benar
Jangan cuma sibuk nyuekin konten buzzer aja. kamu juga bisa lebih aktif mendukung konten yang membawa informasi benar dan menyangkut kepentingan publik.
Contohnya, konten mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), persoalan lingkungan, kritik terhadap kebijakan publik, hingga kondisi masyarakat yang terdampak.
Kalau menemukan konten seperti ini, jangan ragu memberikan like, komentar, menyimpan, membagikan, atau mengunggahnya ulang ke story.
Dengan begitu, perhatian dan interaksi pengguna media sosial bisa lebih banyak diarahkan kepada informasi yang memang penting untuk diketahui publik.
Memblokir dan Melaporkan
Lalu, bagaimana dengan fitur block dan report? Apakah kita tidak boleh menggunakannya? Dalam gerakan #cuekinbuzzer, memblokir akun sebenarnya tetap diperbolehkan, terutama jika kontennya mengganggu.
Namun, tindakan ini bukan prioritas utama dibandingkan membiarkan unggahan tersebut lewat tanpa interaksi.
Sementara itu, fitur report sebaiknya digunakan jika akun atau konten memang terbukti melanggar aturan platform. Jadi, jangan asal melaporkan hanya karena tidak suka dengan isi unggahannya.
Ada pula beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari, seperti mengomentari unggahan buzzer sebelum memblokirnya, membalas menggunakan akun palsu, atau membagikan tautannya ke grup WhatsApp.
Sebab, semua tindakan tersebut tetap berpotensi mendatangkan interaksi tambahan.
Jadi, gerakan #cuekinbuzzer mengingatkan bahwa kita sebagai pengguna media sosial juga punya andil dalam menentukan konten apa yang mendapat perhatian publik.
Melawan misinformasi ternyata tidak selalu harus dengan berdebat atau menyerang balik. Kadang, langkah paling sederhana justru dengan berhenti memberi panggung kepada konten yang menyesatkan dan mulai memberikan perhatian lebih kepada informasi yang benar-benar penting.