Kementerian PPN/Bappenas rampung menyusun dokumen strategis berbasis analisis National Transfer Accounts (NTA) yang dirancang demi memahami dinamika kependudukan sekaligus mendukung perencanaan pembangunan yang lebih adil lintas generasi.
NTA merupakan metode internasional untuk mengukur aliran sumber daya ekonomi antar kelompok usia, sehingga pemerintah dapat merancang kebijakan berbasis siklus hidup dan keadilan antargenerasi.
Melalui pendekatan tersebut, analisis NTA diharapkan menjadi kompas baru bagi pemerintah dalam memetakan aliran sumber daya ekonomi lintas usia.
Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Maliki berkata, buku ini hadir sebagai alat analisis yang lebih mendalam.
Jika selama ini berbicara bonus demografi hanya berdasarkan jumlah anak, usia produktif, dan lansia melalui batasan usia yang sederhana (cut-off), maka melalui NTA kami dapat mengetahui produktivitas riil dari kelompok usia tersebut,”
kata Maliki, di kantor Bappenas, Senin, 6 April 2026.
Pemerintah mencatat Indonesia kini memasuki fase penurunan laju pertumbuhan penduduk, dengan proporsi lansia yang terus meningkat.
Alih-alih memandang lansia sebagai beban, pemerintah mulai mengoptimalkan potensi silver dividend melalui penguatan silver economy, termasuk pengembangan layanan kesehatan, hunian ramah lansia, serta teknologi pendukung.
Di sisi lain, isu ekonomi perawatan (care economy) juga mendapat perhatian serius, mengingat beban perawatan anak dan lansia selama ini belum terbagi secara proporsional dan cenderung ditanggung oleh perempuan, yang berujung pada kemiskinan waktu (time poverty).
Kolaborasi lintas sektor penting dalam merespons dinamika transisi demografi Indonesia.
Terpenting adalah sistem pendukung. NTA ini diharapkan bisa menjadi alat bagi kami untuk menyusun kebijakan-kebijakan, terutama kebijakan aging population,”
ucap Maliki.
Buku ini digunakan sebagai landasan strategis dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, dengan menekankan enam arah transformasi, yakni
- Investasi sumber daya manusia sejak dini melalui penguatan gizi, kesehatan, dan pendidikan anak;
- Reformasi pasar kerja melalui transformasi pendidikan vokasi dan sistem pengupahan berbasis kompetensi;
- Peningkatan produktivitas perempuan melalui penyediaan fasilitas pengasuhan anak dan sistem kerja fleksibel;
- Penguatan jaring pengaman sosial melalui reformasi sistem pensiun yang berkelanjutan bagi lansia;
- Pengembangan care economy sebagai sumber lapangan kerja formal baru;
- Pemerataan wilayah melalui sinkronisasi pembangunan inklusif antara Indonesia Barat dan Timur.



