Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi tak hanya menimbulkan guncangan kuat dan potensi tsunami.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut gempa itu berkaitan dengan struktur sesar yang secara historis sudah berulang kali memicu gempa merusak, bahkan tsunami.
Kita mencatat antara lain kejadian Flores Utara tahun 1961, Flores 1992, Solor 1982, serta Manggarai 2003,”
kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya dikutip pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Lana menjelaskan dari parameter sumber gempa, aktivitas tektonik gempa NTT berasosiasi dengan Sesar Naik Busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. Sesar tersebut membentang di sepanjang laut utara Kepulauan Nusa Tenggara dan terbagi dalam sejumlah segmen.
Dia mengatakan dari insiden gempa yang sudah pernah terjadi, jejak aktivitas sesar itu bukan sesuatu yang baru.
Menurutnya, secara historis, struktur tektonik itu sudah berulang kali menghasilkan gempa merusak. Bahkan, kata dia, beberapa di antaranya memicu tsunami.
Maka itu, gempa terbaru di NTT tak bisa dinilai sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Aktivitas itu jadi bagian dari dinamika tektonik regional yang perlu terus diantisipasi.
Tsunami Terjang Pota
Gempa M 7,7 tersebut juga memunculkan tsunami. Badan Geologi mencatat ketinggian maksimum tsunami mencapai 1,67 meter di Pota, Kabupaten Manggarai Timur.
Bencana itu turut menyebabkan korban jiwa. Dari data sementara, sudah dilaporkan 38 korban jiwa.
Dari sisi kondisi geologi, kawasan di sekitar episenter memiliki karakter morfologi yang beragam, mulai dari dataran, wilayah berombak dan bergelombang, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan.
Wilayah tersebut juga tersusun atas batuan gunung api berumur tersier serta batuan sedimen berumur kuarter. Kondisi geologi itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam melihat dampak gempa di wilayah terdampak.
Berdasarkan data kondisi tapak atau Vs30, kawasan di sekitar lokasi terdampak memiliki kelas tanah yang bervariasi, mulai dari tanah sangat padat dan batuan lunak hingga tanah lunak.
Pada kondisi tertentu, karakteristik tanah tersebut bisa memperkuat respons terhadap guncangan gempa.
Di sisi lain, wilayah terdampak juga berada pada kawasan rawan bencana gempa bumi kategori menengah hingga tinggi,”
ujar Lana.
Guncangan Terkuat
Dampak guncangan juga diperkirakan cukup signifikan di sekitar sumber gempa. Hasil pemodelan Badan Geologi memperlihatkan intensitas maksimum mencapai VII hingga VIII Modified Mercalli Intensity (MMI).
Tingkat guncangan kemudian menurun seiring semakin jauhnya jarak dari sumber gempa. Meski demikian, guncangan sekitar skala VI MMI diperkirakan masih bisa dirasakan hingga Kabupaten Manggarai Timur di sebelah barat.
Dia menekankan informasi itu penting sebagai rujukan untuk mengarahkan prioritas pemeriksaan lapangan.
Hal itu terutama pada daerah yang diperkirakan menerima guncangan paling kuat,”
kata Lana.
Selain tsunami, Badan Geologi juga mengingatkan potensi bahaya ikutan dampak gempa seperti gerakan tanah dan likuefaksi.
Badan Geologi melaporkan demikiab karena merujuk dokumentasi lapangan yang memperlihatkan sejumlah dampak guncangan. Dampak itu di antaranya berupa retakan pada dinding, kerusakan komponen bangunan, hingga keruntuhan sebagian struktur.
Selain itu, ada juga laporan mengenai air yang keluar dari tanah. Tapi, seluruh temuan itu masih perlu verifikasi untuk memastikan rangkaian dampak geologi yang terjadi.
Seluruh indikasi ini perlu diverifikasi lebih lanjut di lapangan agar kita memperoleh gambaran yang utuh mengenai rangkaian dampak geologi dari kejadian ini,”
tutur Lana.



























