Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih belum tuntas. Hingga 17 September 2026 pukul 05.00 WIB, tercatat 3.039 titik panas (hotspot) di wilayah tersebut, sementara dari kejadian karhutla pada 16 September, sekitar 287,25 hektare lahan masih belum dapat dipadamkan.

Berdasarkan paparan Komandan Operasi Satgas Karhutla Sumsel, Danrem 044/Gapo, hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 1.034 titik.

Selanjutnya Musi Banyuasin sebanyak 684 titik, Banyuasin 379 titik, dan Muara Enim 299 titik.

49.591 Titik

Secara kumulatif, jumlah hotspot di Sumatera Selatan sejak Januari hingga 16 September 2026 mencapai 49.591 titik. Tingginya aktivitas titik panas tersebut membuat penanganan karhutla masih menjadi perhatian pemerintah.

Pada 16 September 2026, patroli udara dan tim darat menemukan 63 kejadian karhutla. Dengan tambahan itu, total kejadian karhutla di Sumatera Selatan sejak 1 Januari hingga 16 September 2026 mencapai 3.098 kejadian.

Dari 63 kejadian yang ditemukan pada 16 September, estimasi luas lahan yang terbakar mencapai 531,31 hektare.

Satgas darat telah menangani sekitar 214,06 hektare, sedangkan pemadaman menggunakan helikopter water bombing menjangkau sekitar 30 hektare.

Sementara itu, sekitar 287,25 hektare masih belum dapat dipadamkan berdasarkan data saat paparan disusun.

Penanganan saat ini difokuskan di lima wilayah, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.

Deteksi Dini

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api.

Personel juga dikerahkan sejak tahap pencegahan, deteksi dini, hingga pemulihan setelah kebakaran.

Personel tidak hanya disiapkan untuk memadamkan api, tetapi digerakkan sejak fase pencegahan, deteksi dini, sampai dengan pemulihan pascakebakaran,”

ujar Suharyanto.

Sebanyak 12.285 personel tergabung dalam Satgas Karhutla Sumsel. Mereka melibatkan BPBD, TNI, Polri, Lanud Sri Mulyono Herlambang, Manggala Agni, Polhut, Satpol PP, Kelompok Tani Peduli Api, Masyarakat Peduli Api, serta unsur pemadam dari perusahaan perkebunan.

Operasi tersebut diperkuat dengan 1.101 posko karhutla yang tersebar di berbagai wilayah.

Untuk mempercepat penanganan, helikopter digunakan dalam patroli udara, verifikasi hotspot, penentuan titik api prioritas, water bombing, pemantauan perkembangan kebakaran, hingga evaluasi hasil pemadaman.

Selain pemadaman, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan sebagai bagian dari upaya preventif dan penanganan kondisi kekeringan.

Penanganan karhutla tersebut turut ditinjau Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago bersama Suharyanto pada Jumat (18/9).

Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi penanganan sekaligus memastikan koordinasi lintas sektor dan operasi di lapangan berjalan sesuai perkembangan situasi.

BNPB bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan unsur terkait terus mendorong pencegahan, deteksi dini, patroli, serta respons cepat untuk menekan risiko kebakaran meluas, khususnya di wilayah yang memiliki kerentanan tinggi.

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dampak asap dan kualitas udara akibat karhutla. Informasi mengenai kualitas udara perlu disampaikan secara cepat dan mudah dipahami masyarakat, disertai langkah mitigasi apabila terjadi penurunan kualitas udara serta koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

Sumatera Selatan sebelumnya ditetapkan BNPB sebagai salah satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla, bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.