Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mendorong untuk melakukan hilirisasi gambir. Sebab Sumatera Barat menjadi wilayah terbesar ekspor gambir hingga mencapai US$34,2 juta sepanjang Januari–September 2025.
Budi mengatakan, dengan hilirisasi ini menciptakan nilai tambah produk, dan memperluas pangsa pasar global. Menurutnya, dengan hilirisasi, gambir bisa menjadi produk sabun, kopi, hingga kecantikan.
Potensi komoditas gambir sangat besar. Agar dapat memaksimalkan potensinya, perlu dilakukan proses hilirisasi. Kita tawarkan produk yang sudah melalui proses produksi, misal gambir menjadi sabun, kopi, mungkin nanti produk kecantikan, produk kesehatan. Produk olahan ini adalah kunci untuk mendorong perluasan ekspor komoditas gambir,”
Budi dalam keterangannya, Selasa (18/11/2025).
Budi dalam kesempatan ini juga melepas ekspor 27 ton gambir PT Salimbado Jaya Indonesia (PT SJI), ke India senilai US$102.600 atau setara Rp1,72 miliar.
Adapun sepanjang Januari–September 2025 nilai ekspor komoditas gambir Sumatera Barat mencapai US$34,2 juta atau 71,1 persen dari total nilai ekspor gambir nasional US$48,1 juta. Dari total nilai ekspor tersebut, sebanyak US$46,62 juta atau 96,93 persen diekspor ke India.
Lanjut Budi, kemitraan usaha besar seperti PT SJI dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu kunci untuk mengakselerasi hilirisasi komoditas gambir. Lalu, modernisasi pengolahan dan peningkatan mutu komoditas gambir turut mendorong hilirisasi komoditas gambir.
Selain itu, Kementerian Perdagangan juga sedang mempersiapkan kebijakan untuk tata niaga ekspor komoditas gambir yang berfokus pada hilirisasi.
Upaya ini dilakukan melalui pengajuan usulan pengembangan pos tarif dan identifikasi barang (Harmonized System Code/HS Code) gambir, untuk membedakan komoditas gambir mentah dan gambir yang sudah diolah dengan kadar katekin tinggi.

