Asian Development Bank (ADB) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025. Ekonomi RI diperkirakan tumbuh 5,0 persen, dari sebelumnya di 4,9 persen.
Berdasarkan laporan Asian Development Outlook (ADO), perkiraan pertumbuhan ekonomi itu didorong oleh kuatnya ekspor ke sejumlah negara diantaranya China, ASEAN, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa.
Proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia untuk tahun 2025 telah dinaikkan menjadi 5,0 persen, dari 4,9 persen, akibat hasil kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan, didorong oleh ekspor yang kuat ke Tiongkok, ASEAN, AS, dan Uni Eropa,”
tulis laporan itu Rabu, 10 Desember 2025.
Sedangkan untuk tahun depan, proyeksi pertumbuhan ekonomi juga dinaikkan dari 5,0 persen menjadi 5,1 persen untuk 2026. Pertumbuhan itu didorong oleh perbaikan permintaan domestik yang berasal dari stimulus fiskal dan moneter.
Di samping itu, ADB juga turut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang dan Pasifik untuk tahun 2025 dan 2026. Dinaikkannya perkiraan ini sejalan dengan ekspor yang lebih kuat dari perkiraan, serta meredanya ketidakpastian perdagangan setelah tercapainya sejumlah kesepakatan dagang dengan AS.
Sebagian ketidakpastian tersebut dapat diredakan dengan kesepakatan dagang, tetapi tantangan eksternal dan tantangan lain masih mengancam proyeksinya. Pemerintah di kawasan ini harus terus mendukung perdagangan terbuka dan investasi demi mempertahankan ketangguhan dan pertumbuhan,”
ujar Kepala Ekonom ADB Albert Park.
Albert menjelaskan, tetap kuatnya ekspor utamanya didorong oleh semikonduktor dan produk teknologi lainnya, penurunan inflasi, dan stabilnya kondisi keuangan telah menguatkan proyeksi pertumbuhan kawasan ini.
Adapun perekonomian di kawasan ini diproyeksikan tumbuh 5,1 persen pada 2025 berkat pertumbuhan di India. Proyeksi untuk tahun depan turut dinaikkan 0,1 poin persentase menjadi 4,6 persen.
Fundamental perekonomian Asia dan Pasifik yang solid menopang kuatnya kinerja ekspor dan mantapnya pertumbuhan, meskipun lingkungan perdagangan global kurang mendukung akibat ketidakpastian luar biasa selama tahun ini,”
kata Albert.
ADB memproyeksikan, pertumbuhan RRT tahun ini naik menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 4,7 persen, yang didorong oleh ekspor yang tangguh dan dilanjutkannya stimulus fiskal. Sementara proyeksi untuk 2026 masih di angka 4,3 persen.
Lalu untuk India, pertumbuhan ekonomi tahun ini naik 0,7 poin persentase menjadi 7,2 persen. Hal ini mencerminkan pertumbuhan lebih kuat pada kuartal III karena pemotongan pajak mendukung konsumsi.
Kemudian proyeksi untuk sub kawasan Kaukasus dan Asia Tengah tahun ini direvisi naik menjadi 5,8 persen dari sebelumnya sebesar 5,5 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh kuatnya investasi publik, naiknya nilai remitansi, dan kokohnya permintaan domestik.
Selain itu, inflasi di kawasan Asia yang sedang berkembang dan Pasifik diperkirakan makin mereda ke 1,6 persen pada 2025, dibandingkan sebelumnya di 1,7 persen. Hal ini terutama karena inflasi pangan di India lebih rendah daripada perkiraan.

