Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap mengimpor minyak mentah (crude) dan bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat (AS). Hal ini sejalan dengan kesepakatan perundingan tarif dagang antara Indonesia dan AS.
Kami dari ESDM itu tetap. Apa yang sudah dikomitmenkan untuk kami impor dari AS,”
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Sabtu, 13 Desember 2025.
Pernyataan Yuliot datang setelah adanya isu perundingan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terancam batal.
Yuliot menjelaskan, kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dengan AS sedang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.
Jadi nanti Kemenko Perekonomian akan ngajak duduk bersama seluruh kementerian/lembaga terkait, termasuk ESDM,”
Yuliot Tanjung.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia membantah adanya isu perundingan tarif dagang antara Indonesia dan AS terancam batal.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan negosiasi kedua negara masih terus berlanjut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengharapkan Indonesia dapat merampungkan negosiasi tarif dengan Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun 2025.
Dia menekankan telah bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Kamis malam, 11 Desember lalu, untuk membahas tarif resiprokal.
Hasil pembicaraan dalam pertemuan dengan Greer disebut sudah disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto pada Jumat pagi, 12 Desember 2025.
Airlangga pun menekankan bahwa Presiden meminta negosiasi tarif dengan AS dapat diselesaikan di akhir tahun 2025, selagi tetap mengedepankan kepentingan bersama bagi kedua negara.
Dalam kesepakatan dengan AS, sejumlah komoditas Indonesia yang tidak diproduksi Negeri Paman Sam akan mendapatkan tarif 0 persen.
Komoditas itu meliputi minyak sawit mentah (CPO), karet, teh, kopi, serta produk karet lainnya. Sementara, tarif untuk tekstil dan alas kaki masih dalam tahap pembahasan.
Sebagai bagian dari paket negosiasi, Indonesia juga menyampaikan komitmen untuk menambah impor dari AS guna menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara.


