Pariwisata di Bali kini tengah menjadi sorotan masyarakat karena dikabarkan sepi wisatawan. Wisatawan mancanegara (wisman) diduga kini lebih memilih berlibur ke negara lainnya seperti Thailand dan Vietnam.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengatakan pihaknya belum memiliki data terkait kebenaran informasi tersebut. Namun, penurunan wisman bisa saja terjadi.
Ya mungkin terjadi penurunan, betul. Ini kan dampaknya banyak hal, karena yang menyampaikan itu kan salah satunya Pak Gubernur (Bali) sendiri ya yang mengeluarkan statement bahwa memang dari rata-rata kunjungannya itu menurun ya untuk bulan Desember,”
ujar Maulana kepada owrite.
Maulana menduga, penyebab turunnya wisatawan di Bali lantaran lebih memilih destinasi wisata di wilayah lainnya. Dia mengatakan, naiknya jumlah wisatawan di Bali terjadi di antara bulan Juli hingga Agustus.
Jadi mungkin-mungkin saja wisatawan yang menurun di Bali itu justru dia pergi ke daerah lain, selain Bali kan bisa saja di situ. Karena kan pertumbuhan angka kehidupan wisman itu tidak membludak secara besar gitu, naiknya sekian persen-sekian persen,”
katanya.
Banjir Jadi Penyebab Wisatawan Tak Berlibur di Bali

Maulana menuturkan, adanya bencana banjir di Sumatera dan Guci, Tegal mempengaruhi pariwisata di Bali. Kondisi itu menyebabkan traveler mempertimbangkan untuk berlibur di Bali.
Kejadian-kejadian fenomena alam itu juga pasti akan mempengaruhi pariwisata di Bali itu pasti. Seperti terakhir kemarin kan ada dua kali ya, banjir ya kan, kemarin terakhir juga masih ada banjir. Jadi fenomena cuaca ekstrem segala macam itu juga bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pariwisata,”
ujarnya.
Menurutnya pemerintah harus mengambil tindakan tegas terkait kondisi cuaca hingga mitigasi selanjutnya. Sehingga para wisatawan merasa yakin dan aman saat akan berwisata.
Sehingga para traveler ini bisa yakin untuk tetap ber-traveling karena ada informasi bagaimana kondisi cuacanya, mitigasi bencananya, dan selanjutnya. Itu kan sebenarnya dari pihak pemerintah yang harus meng-declare itu ya, supaya kenyamanan mereka untuk berwisata itu ada gitu loh,”
katanya.
Okupansi Hotel Turun 5 Persen

Maulana mengatakan, tingkat okupansi hotel atau keterisian kamar masih dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dia mengungkap, pada tutup tahun 2025 okupansi hotel minus 5 persen.
Kalau kita melihatnya sejauh ini okupansi masih belum cukup baik ya. Kalau kita nanti tutup tahun di 2025 ini sebenarnya kita minus, hampir rata-rata lebih dari 5 persen,”
jelasnya.
Namun, penyebab turunnya okupansi hotel lantaran pemerintah melakukan efisiensi anggaran. Sebab biasanya pemerintah seringkali menyelenggarakan kegiatan secara nasional dan internasional.
Selain itu, karena efisiensi anggaran ini hotel kehilangan pendapatan lebih dari 60 persen pada tahun ini. Sebab kontribusi kegiatan pemerintah ke okupansi hotel mencapai 60-80 persen.
Kemudian yang kedua juga terkait masalah revenue. Kita di industri akomodasi itu lossnya hampir lebih dari 60 persen ya untuk total revenue kita yang tahun 2025,”
katanya.
Maulana tak mengelak, turunnya wisatawan di Bali membuat banyak bisnis tutup. Ia menilai, banyak bisnis tidak bisa bertahan karena kondisi tersebut.
Iya, karena sulit bertahankan itu saya bilang tadi kan. Minus 5 persen itu bukan sesuatu yang kecil. Tapi revenue hilangnya itu bisa lebih diatas 50-60 persen, bukan kondisi yang baik-baik saja,”
terangnya.
Dia menilai, bila hal ini tidak diantisipasi oleh pemerintah pada tahun 2026, maka kondisi pariwisata akan semakin parah.
Itu kalau gak diantisipasi untuk 2026 akan jadi lebih parah. Karena okupansi yang saya bilang minus 4-5 persen itu kondisinya malah lebih rendah dari tahun 2022. Nah itu, jadi kalau tadi dikatakan banyak yang tutup, ya bisa jadi. Karena nggak kuat untuk menahan beban operational cost mereka,”
ujar Maulana.
