Survei Bank Indonesia (BI) melaporkan, tren alokasi pendapatan masyarakat untuk cicilan dan tabungan naik pada Januari 2026. Namun, proporsi pendapatan untuk konsumsi mengalami penurunan pada awal 2026.
BI mencatat, pada Januari 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) sebesar 72,3 persen.
Rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi tercatat sebesar 72,3 persen, lebih rendah dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 74,3 persen,”
tulis survei konsumen BI Senin, 9 Februari 2026.
Sedangkan untuk proporsi pembayaran cicilan alias utang (debt installment to income ratio) sebesar 11,2 persen. Angka itu naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,8 persen.
Begitu juga, untuk proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) naik menjadi 16,5 persen, dari sebelumnya yang sebesar 14,9 persen.
Proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 16,5 persen, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 14,9 persen,”
katanya.
Adapun proporsi konsumsi terhadap pendapatan mengalami penurunan pada sebagian besar kelompok pengeluaran, yaitu kelompok Rp1-4 juta dan lebih dari Rp5 juta.
Sementara, porsi pendapatan yang ditabung naik pada sebagian kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta atau sebesar 17,4 persen.
Keyakinan Konsumen Januari 2026 Naik
Di samping itu, BI mencatat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang berada pada level optimis sebesar 127,0, atau lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 123,5.
Meningkatnya keyakinan konsumen ini ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing tercatat sebesar 115,1 dan 138,8. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 111,4 dan 135,6.

