Bahkan Amerika pun melakukan itu, sehingga ini adalah tantangan long term dan medium term yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term,”
tuturnya.
Adapun terkait MBG akan dievaluasi karena sorotan Fitch, Airlangga mengatakan program ini akan terus berjalan secara bertahap.
MBG ini kan baru berjalan, jadi kalau berjalan ya terus kita roll out,”
tuturnya.
Peringatan Fitch Jadi Pelajaran
Lebih lanjut, Airlangga menuturkan terkait revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch, hal ini akan menjadi perhatian khusus pemerintah.
Nah ke depan tentu apa yang menjadi warning Fitch itu kita pelajari. Itu untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan,”
jelasnya.
Airlangga menjelaskan, terdapat beberapa hal yang akan diperkuat pemerintah, salah satunya dari sisi penerimaan. Dalam hal ini katanya, perbaikan penerimaan pajak dilakukan melalui Coretax.
Nah pemerintah sudah paham itu dan oleh karena itu salah satunya adalah dengan coretax yang kemarin sudah didorong di Kementerian Keuangan,”
terangnya.
Ketika ditanya, apakah revisi Fitch akan memengaruhi ekonomi RI, Airlangga mengatakan bahwa tidak hanya revisi outlook lembaga itu yang memengaruhi. Namun, perang di Timur Tengah juga turut memengaruhi perekonomian global.
Ekonomi dunia semuanya terpengaruh bukan hanya oleh Fitch tetapi oleh perang. Jadi memang dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah, tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade,”
imbuhnya.
Sebelumnya, Fitch Ratings memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen.
Adapun proyeksi ini disebabkan oleh asumsi penerimaan negara yang konservatif dengan proyeksi pertumbuhan yang lebih lambat, serta peningkatan belanja sosial termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).