Momentum Lebaran Idul Fitri diperkirakan menjadi pendorong ekonomi di kuartal I-2026. Ekonomi pada kuartal I-2026 diproyeksikan tumbuh di kisaran 5-5,1 persen, karena sejumlah indikator menunjukkan kenaikan konsumsi masyarakat jelang Lebaran Idul Fitri.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan bila melihat indikator awal perekonomian yakni penjualan ritel, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, serta keyakinan konsumen terdapat sinyal bahwa konsumsi masyarakat akan naik.
Jika melihat indikator awal perekonomian seperti penjualan ritel, PMI manufaktur, serta keyakinan konsumen, terdapat sinyal bahwa aktivitas konsumsi masyarakat berpotensi meningkat menjelang Lebaran 2026, meskipun penguatannya kemungkinan tidak terlalu besar,”
ujar Yusuf kepada owrite Senin, 10 Maret 2026.
Yusuf menyebut, momentum Ramadan biasanya memang mendorong kenaikan belanja rumah tangga karena adanya kebutuhan musiman. Hal ini diantaranya makanan, pakaian, perjalanan mudik, hingga pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Hal ini pada akhirnya dapat memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi pada kuartal berjalan, terutama melalui komponen konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,”
jelasnya.
Namun Yusuf mengatakan, momentum Lebaran hanya bersifat musiman, sehingga dampaknya hanya akan terasa dalam jangka pendek dan tidak selalu mencerminkan penguatan daya beli secara struktural. Sehingga, pertumbuhan ekonomi di kuartal I diperkirakan tumbuh 5,1 persen.
Pertumbuhan ekonomi di kuartal I (periode kuartal terdampak Ramadan dan Lebaran) berpotensi mencapai 5,0 hingga 5,1 persen,”
ujarnya.
Daya Beli Naik Tapi Tak Merata
Dari sisi daya beli kata Yusuf, bila melihat dinamika beberapa bulan terakhir ada indikasi bahwa konsumsi masyarakat cenderung membaik pada periode Ramadan dan Lebaran. Hal ini karena pencairan THR dan stimulus yang digelontorkan pemerintah.
Pencairan THR dan berbagai stimulus pemerintah tentu akan menambah ruang belanja masyarakat, khususnya untuk kebutuhan yang sifatnya musiman,”
terangnya.
Kendati demikian, peningkatan daya beli itu tidak akan merata di semua kelompok masyarakat. Menurut Yusuf, hanya kelompok menengah atas yang masih memiliki ruang konsumsi yang cukup kuat.
Peningkatan daya beli tersebut kemungkinan tidak merata di semua kelompok masyarakat. Kelompok menengah atas relatif masih memiliki ruang konsumsi yang cukup kuat, sementara kelompok berpendapatan rendah terbantu oleh tambahan pendapatan seperti THR maupun bantuan sosial,”
ujarnya.
Sedangkan untuk kelompok masyarakat kelas menengah, pola konsumsi cenderung lebih selektif karena tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi. Artinya, memang ada kenaikan konsumsi, namun tidak akan terlalu agresif.
Sehingga peningkatan konsumsi kemungkinan tetap ada tetapi tidak terlalu agresif,”
ucapnya.
Senada dengan Yusuf, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman mengatakan bahwa Lebaran 2026 tetap menjadi salah satu pengungkit penting aktivitas ekonomi pada kuartal I-2026.
Karena Idul Fitri tahun ini jatuh pada akhir Maret sehingga dorongan konsumsi masuk lebih awal. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB, sehingga peningkatan belanja pada periode Ramadan–Lebaran biasanya memberi tambahan dorongan pada pertumbuhan kuartalan,”
ujar Rizal kepada owrite.
Rizal juga menilai, dampak momen Lebaran ke pertumbuhan ekonomi nasional akan cenderung terbatas. Sebab, momen ini lebih bersifat musiman.
Kontribusinya lebih bersifat musiman, yakni mempercepat konsumsi yang seharusnya terjadi di periode lain, sehingga efeknya terhadap pertumbuhan ekonomi cenderung terbatas dan tidak bersifat permanen,”
katanya.
Memang kata Rizal, konsumsi masyarakat akan naik selama Ramadan dan Lebaran, tetapi lebih karena faktor musiman dibanding perbaikan struktural. Sehingga, momentum Lebaran cenderung berfungsi sebagai penopang sementara konsumsi agar daya beli tidak melemah lebih dalam.
Tekanan harga pangan dan biaya hidup masih terasa, tercermin dari inflasi yang relatif tinggi serta penurunan Indeks Keyakinan Konsumen pada Februari 2026. Artinya masyarakat masih optimistis karena indeks tetap di zona ekspansif, tetapi ekspektasi ekonomi ke depan mulai lebih hati-hati,”
ujarnya.
Sektor Ritel hingga Pariwisata Akan Terdongkrak
Rizal mengatakan, pada momen Lebaran sektor yang paling terdorong adalah perdagangan ritel, makanan dan minuman, transportasi dan logistik, akomodasi serta pariwisata.
Peningkatan mobilitas masyarakat selama mudik akan memperkuat permintaan pada transportasi darat, udara, serta jasa distribusi,”
jelasnya.
Selain itu sambung Rizal, aktivitas belanja menjelang Lebaran juga meningkatkan kinerja pusat perbelanjaan, restoran, serta pelaku UMKM yang bergerak di sektor makanan, fesyen, dan oleh-oleh.

