Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali mengalami defisit di dua bulan pertama 2026. Pada Februari 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun penyebab defisit APBN per Februari 2026 karena realisasi belanja lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, bahwa defisit ini masih terkendali dalam koridor APBN tahun 2026.
Defisit APBN tercatat sekitar Rp135,7 triliun atau 0,53 persen terhadap PDB yang masih dalam koridor desain APBN 2026,”
ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan Rabu, 11 Maret 2026.
Bendahara Negara ini mengatakan, alasan mengapa APBN di awal tahun ini defisit lantaran pemerintah ingin memastikan belanja bisa lebih merata. Sehingga, Purbaya berharap dampak belanja bisa lebih terasa ke perekonomian RI.
Jadi ada yang bilang tahun lalu surplus kenapa tahun ini defisit, ya emang desain APBN kita defisit dan kita pastikan belanjanya lebih merata sepanjang tahun. Sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain terhadap perekonomian lebih terasa,”
tuturnya.
Purbaya menjelaskan, untuk realisasi pendapatan negara pada Februari 2026 sebesar Rp358 triliun. Sedangkan belanja negara realisasinya sebesar Rp493,8 triliun.
Bila dirinci, realisasi pendapatan negara itu sudah 11,4 persen dari target tahun ini yang sebesar Rp3.153,6 triliun. Realisasi ini terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp290 triliun, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp68 triliun.
Sedangkan untuk realisasi belanja negara sudah 12,8 persen dari target APBN 2026 yang sebesar Rp3.842,7 triliun. Realisasi ini terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun atau 11 persen, serta realisasi transfer ke daerah sebesar Rp147,7 triliun atau 21,3 persen dari APBN.



