Harga minyak mentah Amerika Serikat atau West Texas Intermediate (WTI) naik pada Minggu malam waktu setempat. Hal ini sejalan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan melakukan serangan militer terhadap fasilitas ekspor minyak utama milik Iran di Pulau Kharg.
Melansir CNBC, Senin, 16 Maret 2026, harga minyak mentah AS sempat menembus level US$100 per barel, sebelum akhirnya memangkas kenaikan dan diperdagangkan di kisaran US$98,9 per barel pada pukul 22.28 waktu New York. Sedangkan harga minyak Brent sebagai acuan internasional naik 1,2 persen menjadi US$104,2 per barel.
Sebelumnya, Trump memerintahkan serangan pada Jumat terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg. Trump mengatakan serangan tersebut tidak merusak infrastruktur minyak.
Namun, ia memperingatkan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas minyak di pulau tersebut jika Iran terus menyerang kapal tanker di Selat Hormuz.
Sementara itu, Gedung Putih berencana mengumumkan paling lambat pekan ini bahwa sejumlah negara telah sepakat untuk membantu mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Informasi ini disampaikan pejabat Amerika Serikat kepada The Wall Street Journal.
Namun, para pejabat tersebut masih mendiskusikan apakah operasi pengawalan kapal tanker tersebut akan dimulai sebelum perang berakhir atau setelah konflik mereda.
Adapun sebelum konflik ini terjadi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang menjadi penghubung utama antara kawasan Teluk dan pasar energi global itu.
Penutupan jalur strategis tersebut telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Harga minyak dunia pun melonjak tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran tiga pekan lalu.
Tiga Skenario Pemerintah RI
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan tiga skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini sejalan dengan perang yang terjadi di Timur Tengah.
Airlangga membeberkan, untuk skenario pertama dengan asumsi harga rata-rata minyak dunia sebesar US$86 per barel, dengan nilai tukar rupiah Rp17.000 per dolar AS atau di atas asumsi makro yang sebesar Rp16.500. Kemudian pertumbuhan ekonomi dipertahankan di angka 5,3 persen, dan SBN 6,8 persen, maka defisit APBN akan sebesar 3,18 persen dari produk domestik bruto.
Lalu skenario kedua, dengan harga rata-rata minyak US$97 per barel, dengan nilai tukar rupiah Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan SBN 7,2 persen, maka defisit APBN akan sebesar 3,53 persen. Sedangkan skenario ketiga atau terburuk defisit akan mencapai 4,06 persen.
Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga US$115 per barel kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2 persen, surat berharganya 7,2 persen, defisitnya 4,06 persen,”
ujar Airlangga.


