Menjelang Lebaran 2026, Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran memproyeksikan lonjakan tingkat hunian (okupansi) hotel meningkat di berbagai destinasi wisata utama.
Kebijakan Work From Anywhere (WFA) alias kerja dari mana saja dan panjangnya cuti bersama yang beririsan dengan libur sekolah dinilai menjadi katalis utama, namun PHRI mengingatkan bahwa realisasi target ini sangat bergantung pada daya beli masyarakat.
Yusran membedah dampak libur panjang ini dari dua sisi mata pisau: pariwisata dan ekonomi makro. Dari kacamata pariwisata, kebijakan WFA memberikan fleksibilitas bagi masyarakat untuk memperpanjang masa tinggal di daerah tujuan wisata.
Perjalanan mudik adalah karakter tahunan yang pergerakannya sangat besar. Setelah bersilaturahmi di kampung halaman, masyarakat umumnya melanjutkan dengan perjalanan wisata lintas provinsi bersama keluarga. Kebijakan WFA yang sejalan dengan libur anak sekolah hingga sekitar tanggal 30 atau 31 Maret, memungkinkan mereka memperpanjang masa libur,”
kata Yusran kepada owrite, Rabu, 18 Maret 2026.
Berbeda dengan sektor transportasi yang mengalami puncak kepadatan pada arus mudik (sebelum hari-H), sektor perhotelan diprediksi memanen okupansi setelah hari raya. Yusran berpendapat momentum emas bagi industri perhotelan tidak terjadi pada hari pertama Lebaran.
Kalau waktu umumnya, imbas di sisi perhotelan itu baru mulai pada H+2. Kalau H-minus, masyarakat masih di kampung halaman. Perjalanan wisata itu biasanya dilakukan setelah Lebaran,”
jelas dia.
Bagi masyarakat non-muslim, panjangnya durasi libur Lebaran juga dimanfaatkan untuk berlibur ke destinasi favorit seperti Bali sejak awal periode cuti bersama.
Meski menguntungkan industri hospitality, Yusran memberikan catatan perihal implementasi WFA dari sudut pandang ekonomi secara luas. Ia menilai keuntungan sektor pariwisata kerap bertolak belakang dengan produktivitas di sektor usaha lain.
Sektor lain tentu semakin banyak libur, semakin banyak hambatan untuk menjalankan operasional bisnisnya. Contohnya perbankan, kalau liburnya panjang tentu agak repot. Jadi tidak serta-merta kebijakan WFA ini diimplementasikan penuh. Kami perhatikan di daerah, pemerintah daerah juga tidak semuanya menerapkan WFA sampai 30 Maret, tapi ada yang 25 Maret kembali masuk (bekerja),”
terang Yusran.
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya faktor daya beli. Berkaca pada periode libur sebelumnya, tingginya minat bepergian tidak akan berdampak maksimal jika tidak ditopang oleh daya beli yang kuat.
Menyikapi masa libur dan cuti bersama yang membentang hingga akhir pekan setelah Lebaran, PHRI menargetkan tingkat okupansi yang agresif di sejumlah daerah.
Kami berharap angka rata-rata okupansi di destinasi yang menjadi target itu bisa mencapai minimal 80 persen. Karena bagi kami, okupansi 70 persen itu sebenarnya masih low season. Paling tidak, kami bisa mendapat 6 hari masa libur dengan rata-rata okupansi kota di angka 80 persen, itu sudah cukup baik,”
ucap Yusran.
Wilayah yang diprediksi menjadi penyumbang okupansi terbesar di Pulau Jawa meliputi Yogyakarta, Bandung, dan Semarang. Sementara di Pulau Sumatera, pergerakan wisatawan akan terpusat di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sementara, Bali juga dipastikan tetap menjadi magnet utama.
Mayoritas pergerakan bersumber dari Jakarta. Jakarta adalah titik tolak pendatang yang keluar dan menyebar ke mana-mana, baik ke Pulau Jawa, Sumatera, Bali, dan lainnya,”
ujar Yusran.
Prediksi Pemudik
Kementerian Perhubungan memprediksi 143,9 juta orang bakal mudik tahun ini. Angka ini turun 1,7 persen dibanding periode tahun lalu.
Berdasar hasil Survei Angkutan Lebaran 2026, Jawa Barat diperkirakan menjadi provinsi asal pemudik terbesar dengan total 30,97 juta orang atau 21,52 persen dari jumlah pergerakan nasional. Sementara, Jawa Tengah menjadi daerah tujuan favorit, dengan proyeksi 38,71 juta orang atau 26,90 persen dari total pemudik.
Demi mendukung kelancaran perjalanan, pemerintah mendorong kebijakan WFA agar kepadatan bisa terurai dan perjalanan lebih aman serta nyaman. Berbagai sarana transportasi juga telah disiapkan guna mudik, yakni 31.345 bus, 2.683 kereta, 392 pesawat, 829 kapal laut, hingga 255 kapal penyeberangan.

