Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, penerapan kebijakan Work From Home (WFH) alias bekerja dari rumah satu hari dalam sepekan bisa menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 20 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai angka penghematan 20 persen tidak realistis bila dibaca sebagai penghematan nasional.
Ia menilai, angka itu hanya masuk akal untuk perjalanan pergi pulang kantor dari pegawai yang benar-benar ikut kebijakan WFH.
Angka penghematan 20 persen itu terlalu besar bila dibaca sebagai penghematan BBM nasional. Angka itu hanya masuk akal untuk perjalanan pergi pulang kantor dari pegawai yang benar-benar ikut kebijakan bekerja dari rumah, karena satu hari dari lima hari kerja memang setara dengan pengurangan seperlima perjalanan kerja mingguan,”
ujar Josua saat dihubungi owrite Selasa, 24 Maret 2026.
Josua mengatakan, penerapan WFH usai lebaran di hari Jumat disebut menjadi opsi pemerintah. Namun menurutnya, basis penghematannya jauh lebih sempit dari total pemakaian BBM nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, penduduk bekerja di November 2025 sebanyak 147,91 juta orang. Sedangkan pekerja formal pada Agustus 2025 sebanyak 61,84 juta orang atau 42,20 persen.
Josua mengatakan, dari jumlah kelompok pekerja formal itu tidak semua bisa bekerja dari rumah, dan banyak dari mereka yang tetap harus hadir langsung. Sehingga menurut hitungannya, BBM yang bisa di hemat per orang saat tidak masuk kantor hanya 9 hingga 19 juta liter.
Dengan hitungan saya, bila yang benar-benar bisa ikut hanya sekitar 35 sampai 50 persen dari pekerja formal, dan rata-rata penghematan per orang pada hari tidak masuk kantor sekitar 0,4 sampai 0,6 liter, maka penghematan yang lebih realistis ada di kisaran 9 sampai 19 juta liter pada hari pelaksanaannya, atau sekitar 0,45 sampai 0,95 miliar liter setahun bila dijalankan terus-menerus,”
jelasnya.
Artinya jelas Josua, penerapan WFH selama satu hari dalam lima hari kerja hanya dapat dibaca sebagai pengurangan perjalanan kerja dari kelompok yang tercakup, bukan potongan total konsumsi BBM nasional.
Jadi, 20 persen itu lebih tepat dibaca sebagai pengurangan perjalanan kerja dari kelompok yang tercakup, bukan potongan total konsumsi BBM nasional,”
tuturnya.
Sementara itu, Alif Towew, ahli matematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam Instagram pribadinya melakukan hitung-hitungan kebijakan WFH satu hari.
Dari hitungannya, pelaksanaan WFH satu hari dalam sepakan tidak menghemat BBM 20 persen, namun hanya ada di rentang 8,5 persen hingga 13,7 persen.
Alif mengasumsikan, pekerja pengguna motor dan mobil di bawah 1.400cc yang mengkonsumsi Pertalite sebesar 16,9 juta kiloliter per tahun.
Bila kelompok ini melaksanakan WFH satu hari, maka penghematan hanya sebesar 2,41 juta kiloliter atau 8,5 persen.
Kemudian asumsi kedua, mencakup seluruh jenis kendaraan pribadi atau 96,3 persen populasi kendaraan, potensi penghematan Pertalite naik menjadi 3,86 juta kiloliter per tahun atau sekitar 13,7 persen.
Kesimpulannya WFH satu hari per minggu ini bisa menghemat, 8,5-13,7 persen Pertalite, atau sekitar 2,41-3,86 juta kilo liter per tahun,”
kata Alif.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, penerapan WFH sehari akan memberikan dampak bagi efisiensi energi, khususnya untuk BBM.
Ada hitungan kasar sekali (penghematan BBM karena WFH), bukan saya yang hitung. Mereka hitung kalau kasar lah sehari lupa saya, tapi seperlimanya kira-kira 20 persen (penggunaan BBM),”
ujar Purbaya usai melaksanakan salat Idulfitri di Kantor DJP, Jakarta, Sabtu, 21 Maret 2026.



