Pengamat tambang dan energi Ferdy Hasiman mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia memengaruhi dua kapal mili PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz. Menurut Ferdy, jika dua kapal tersebut masih terus tertahan di wilayah tersebut, maka akan memengaruhi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas di dalam negeri.
Selat Hormuz ini kan (memasok) untuk Indonesia di kisaran 15-20 persen. Kalau saya tidak salah di Pertamina itu pasokannya paling besar dari Timur Tengah itu kilang Cilacap crude-nya dari daerah Qatar, Bahrain atau apa gitu. Selain itu LPG kita impornya kan di angka 70 persen, tentu sangat berpengaruh secara nasional (jika kapal RI tertahan di Selat Hormuz),”
kata Ferdy pada Owrite, Senin, 30 Maret 2026.
Ferdy kemudian menggarisbawahi bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace (BOP) yang dianggap memengaruhi keputusan Iran dalam mengizinkan kapal Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz.
Kapal kita yang ditahan di Selat Hormuz dampak dari Presiden (Prabowo Subianto) untuk bergabung dengan BOP. Lalu hubungan diplomasi Indonesia di zaman Prabowo nggak terlalu bagus. Saya melihat bahwa Prabowo tidak serius untuk melakukan komunikasi intens dengan Iran, selain untuk pencitraan doang yang di awal-awal perang dia (Prabowo) bilang mau ke Iran, akhir-akhir juga nggak ke sana,”
ujar Ferdy.
Peneliti asal NTT tersebut kemudian menyoroti kedekatan Prabowo dengan Presiden AS Donald Trump, yang juga menjadi salah satu sumber alotnya pembahasan dua kapal RI di Selat Hormuz dengan pemerintah Iran.






