Per 1 Juni 2026, ekspor komoditas strategis seperti batu bara, CPO, dan ferro alloy mulai memasuki masa transisi melalui sistem satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Upaya ini menandai babak baru pengelolaan ekspor sumber daya alam nasional.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengatakan selama Januari hingga April 2026, Indonesia mengekspor tiga komoditas strategis tersebut ke sejumlah negara. Ekspor terbesar batu bara yakni tujuan India, China, dan Jepang.
“Pada Januari hingga April 2026 untuk negara tujuan dengan nilai ekspor batu bara terbesar adalah India, Tiongkok, dan Jepang,”
ujar Pudji dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Rinciannya, ekspor batu bara pada Januari mencapai US$1,82 miliar, Februari mencatat US$1,66 miliar, Maret menyentuh US$2,03 miliar, dan April meraup US$2,07 miliar.
Sedangkan RI paling banyak ekspor kelapa sawit ke India, China, Pakistan. Pudji mengatakan ekspor kelapa sawit pada Januari 2026 tercatat US$2,29 miliar, Februari US$2,40 miliar, Maret US$1,42 miliar, dan April US$2,11 miliar.
Adapun untuk negara tujuan ekspor ferro alloy terbanyak ialah China, Korea Selatan, dan India. Pada Januari ekspor komoditas ini mencapai US$1,18 miliar, Februari US$1,18 miliar, Maret US$1,38 miliar, hingga April US$1,41 miliar.
“Untuk negara tujuan ferro alloy ini adalah Tiongkok, Korea Selatan, dan India,”
imbuh dia.


