Harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri diperkirakan masih relatif aman dalam satu hingga dua bulan ke depan, meski dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz. Namun, risiko kenaikan harga tetap terbuka jika krisis geopolitik berkepanjangan dan harga minyak dunia melonjak.
Pengamat Tambang dan Energi Ferdy Hasiman, menilai kondisi pasokan energi nasional saat ini masih dalam batas aman, terutama karena Indonesia masih memiliki dukungan produksi minyak dalam negeri.
Menurut saya enggak (ada kenaikan harga) untuk 1-2 bulan ya. Cuman kalau lebih dari itu saya enggak (tahu), kalau harga minyaknya udah di atas US$120 saya juga enggak tahu,”
kata Ferdy pada Owrite, Senin, 30 Maret 2026.
Ia menjelaskan, ketahanan energi Indonesia saat ini ditopang oleh produksi minyak domestik yang mencapai sekitar 600 ribu barel per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 ribu barel dapat diolah menjadi BBM untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Meski demikian, Ferdy mengingatkan bahwa kapasitas tersebut memiliki keterbatasan, terutama jika pasokan impor dari kawasan Timur Tengah terganggu dalam waktu lama.
Diketahui, sekitar 15–20 persen pasokan BBM Indonesia berasal dari jalur Selat Hormuz. Sementara itu, impor LPG nasional bahkan mencapai sekitar 70 persen dan mayoritas berasal dari kawasan yang sama.
Menurut dia, jika gangguan distribusi berlanjut, tekanan terhadap harga energi domestik tidak dapat dihindari, terutama apabila tidak diimbangi dengan kebijakan pengelolaan yang tepat.
Kalau langkah-langkah pengendalian dilakukan pemerintah, sebenarnya engga (kenaikan harga BBM bisa ditekan). Makanya yang paling penting sekarang Indikator ekonomi kita kan bagus, minimal enggak jatuh resesi lah seperti yang orang pengamat-pengamat ekonomi itu (bilang) lebay. Minimal yang paling penting adalah mengolah kerentanan fiskal, jadi tugasnya Menteri Keuangan (Purbaya) menurut saya harus mengolah kerentanan fiskal,”
ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengatur prioritas anggaran dan subsidi secara lebih tepat sasaran. Selain itu, pemerintah dinilai perlu memastikan komunikasi publik yang jelas untuk mencegah kepanikan di masyarakat, seperti panic buying yang justru dapat memperburuk kondisi pasokan.
Hingga kini, pemerintah belum memberikan keterangan rinci terkait dampak langsung tertahannya kapal di Selat Hormuz terhadap harga BBM dalam negeri. Namun, situasi geopolitik di kawasan tersebut terus menjadi perhatian, mengingat perannya sebagai jalur vital distribusi energi global.


