Konflik di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel telah membuat harga minyak dunia melambung tinggi.
Akibatnya, industri Tanah Air kini sudah menghadapi tekanan serius, karena bahan baku plastik yakni polimer sudah tidak ada.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, ketidakpastian pasokan bahan baku saat ini membuat industri dalam kondisi survival mode alias bertahan dengan kondisi stok tersisa.
Jadi sebenarnya karena ketidakpastian pasokan bahan baku, sehingga kita juga sekarang dalam kondisi survival mood, artinya kita bertahan terhadap kondisi bahan baku yang kita punya. Dan ini tidak hanya Indonesia, seluruh dunia sekarang,”
ujar Fajar saat dihubungi owrite Selasa, 31 Maret 2026.
Fajar mengatakan, saat ini industri petrokimia di seluruh dunia tengah menata ulang antara produksi dan suplai bahan baku. Sebab, karena kondisi perang ini sejumlah negara lebih memprioritaskan kebutuhan dalam negerinya.
Mereka sedang menata ulang antara produksi, kemudian suplai bahan baku, dan kemampuan untuk dia suplai di prioritas lokal demand dulu. Jadi semua negara sekarang mementingkan untuk mensuplai kebutuhan negerinya masing-masing, termasuk Indonesia,”
katanya.
Fajar menuturkan, saat ini industri dalam negeri menghadapi tekanan berupa kelangkaan bahan baku. Sebab, komoditas nafta yang merupakan bahan baku industri petrokimia tidak bisa keluar akibat penutupan Selat Hormuz.
Pertama itu (tidak ada pasokan). Kedua kalaupun itu ada barangnya, kapan siap untuk diproduksinya. Kemudian yang ketiga juga, sekarang kan karena perang kalau minyak itu kan 20 persen dari Timur Tengah lewat Selat Hormuz, kemudian kalau untuk bahan baku nafta itu kan 70 persen dari Serat Hormuz,”
jelasnya.
Akibat kondisi ini kata Fajar, industri dalam negeri mau tidak mau harus mencari alternatif bahan baku dari negara lainnya. Kondisi ini nantinya akan membuat waktu pengiriman lebih lama, sehingga industri hanya bertahan dengan memanfaatkan sisa persediaan yang ada.
Kita harus cari alternatif suplai dari tempat lain, dimana itu nanti pasti harganya beda. Yang kedua juga, waktu pengirimannya juga lebih lama sehingga ini kan kita bilang survival mode tadi ya menuju ke tatanan dunia bisnis yang baru dikarenakan kan ada tata waktu delivery yang ada berubah,”
katanya.
Fajar mengungkapkan, industri dalam negeri saat ini sudah menemukan alternatif bahan baku dari negara lainnya. Namun, dia enggan membeberkan darimana asal pasokan bahan baku itu.
Sudah ada, cuma kita nggak bisa ngomong. Karena itu nanti masing-masing perusahaan kan punya sumber yang berbeda-beda,”
imbuhnya.


