Bank Dunia merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini. Ekonomi RI diperkirakan hanya tumbuh 4,7 persen pada 2026, dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo mengatakan pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Timur dan Pasifik (EAP) melambat ke 4,2 persen pada 2026 dari 5,0 persen di 2025.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan ini karena guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah yang memperparah dampak negatif dari hambatan perdagangan yang meningkat, ketidakpastian kebijakan internasional, dan tantangan ekonomi domestik.
Pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik terus melampaui sebagian besar wilayah dunia, bahkan di masa-masa terjadinya ketidakpastian,”
kata Carlos dalam keterangan resmi Kamis, 9 April 2026.
Bank Dunia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China yang merupakan terbesar di kawasan ini akan turun dari 5,0 persen pada tahun 2025 menjadi 4,2 persen di 2026, dan 4,3 persen pada tahun 2027. Kondisi ini sejalan dengan berlanjutnya ketidakpastian permintaan domestik dan tantangan di sektor properti, serta perlambatan global yang menghambat pertumbuhan ekspor.
Sedangkan pertumbuhan di bagian lain kawasan ini akan melambat menjadi 4,1 persen, dan diperkirakan pulih menjadi 5 persen pada tahun 2027, seiring meredanya ketegangan geopolitik dan berkurangnya ketidakpastian.
Namun, untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan, negara-negara harus menghadapi tantangan struktural dan memanfaatkan peluang di era digital untuk meningkatkan produktivitas serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja,”
katanya.
Kenaikan Harga Minyak Turunkan Pendapatan Masyarakat
Carlos mengatakan, dampak konflik di Timur Tengah bergantung pada ketergantungan masing-masing negara terhadap impor bahan bakar, kerentanan yang ada, dan fleksibilitas kebijakan ekonomi.
Adapun konflik yang berkepanjangan dan semakin intensif dapat semakin memperburuk kondisi ekonomi dan mengurangi pertumbuhan regional. Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar sebesar 50 persen yang terus berlanjut dapat menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 3-4 persen bagi masyarakat di wilayah ini.
Bank Dunia menilai, dukungan yang terarah baik bagi masyarakat berpendapatan rendah dan rentan, maupun usaha kecil dan menengah dapat membantu masyarakat yang paling membutuhkan tanpa membebani keuangan negara.
Ketahanan kawasan ini di masa lalu memang luar biasa, namun tantangan saat ini dapat meningkatkan beban ekonomi dan menghambat pertumbuhan produktivitas,”
ujar Aaditya Mattoo, Direktur Penelitian Kelompok Bank Dunia.
Dukungan yang terukur bagi masyarakat dan perusahaan dapat menyelamatkan lapangan kerja saat ini, sementara menghidupkan kembali reformasi struktural yang tertunda dapat memicu pertumbuhan di masa depan,”
sambungnya.


