International Monetary Fund (IMF) memperkirakan, ekonomi global akan melambat pada tahun ini akibat lonjakan harga energi karena perang yang terjadi di Timur Tengah. IMF memproyeksikan, ekonomi global hanya tumbuh 3,1 persen, atau turun dari 3,3 persen dari ramalan Januari.
IMF dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia terbarunya memperingatkan bahwa gangguan pada pasar minyak dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, memicu inflasi, dan meningkatkan kemungkinan resesi global.
Pesan serius ini disampaikan setelah ekonomi global sebagian besar berhasil melewati pandemi, perang Rusia di Ukraina, dan inflasi yang melonjak tanpa terjerumus ke dalam resesi. Namun, keputusan Presiden Trump untuk memulai perang di Iran telah menghentikan laju ekonomi dunia.
Prospek global tiba-tiba memburuk menyusul pecahnya perang di Timur Tengah. Perang tersebut mengganggu lintasan pertumbuhan yang sebelumnya stabil,”
kata Kepala Ekonom IMF Pierre Olivier Gourinchas dilansir dari The New York Times Rabu, 15 April 2026.
IMF menyatakan, meskipun perang berlangsung singkat, kerusakan pada ekonomi global telah terjadi. Dalam skenario terbaik sekalipun, IMF memperkirakan pertumbuhan global akan turun menjadi 3,1 persen tahun ini dari 3,4 persen pada tahun 2025.
Proyeksi ini juga lebih rendah dari pertumbuhan 3,4 persen yang telah dipersiapkan IMF sebelum perang pecah dan penutupan Selat Hormuz.
Adapun perkiraan ini dirilis saat para pembuat kebijakan global tiba di Washington untuk pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia. Beberapa minggu yang lalu, pertemuan tersebut diperkirakan akan fokus pada gangguan lain, termasuk ketegangan perdagangan, kecerdasan buatan, dan ketidakseimbangan fiskal internasional. Namun, pertemuan tersebut justru akan didominasi oleh dampak ekonomi dari perang.
Saat pertemuan dimulai pada hari Selasa, Menteri Keuangan Scott Bessent mendesak IMF dan Bank Dunia untuk kembali fokus pada misi inti mereka yakni stabilitas keuangan untuk IMF dan pengentasan kemiskinan untuk Bank Dunia.
Bessent memuji Bank Dunia karena telah beralih dari ambisinya untuk memerangi perubahan iklim dan menjadi pendukung energi nuklir.
Namun, Bessent menyarankan agar IMF perlu memberi contoh dan menyingkirkan lapangan golf mereka di Maryland dan lebih fokus pada ketidakseimbangan global.
Penumpukan ketidakseimbangan global secara perlahan setelah kurangnya pertumbuhan berkelanjutan adalah risiko terbesar,”
kata Bessent dalam pertemuan Institut Keuangan Internasional di sela-sela pertemuan musim semi.
Dunia tidak dapat menerima China dengan surplus perdagangan triliunan dolar,”
sambungnya.
Bessent tidak menyebutkan perang di Iran dan dampaknya terhadap ekonomi global, yang telah membuat IMF dan para pembuat kebijakan di seluruh dunia khawatir.
Sebagaimana diketahui, konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak di atas US$100 per barel. Harga gas alam telah melonjak lebih dari 80 persen, dan kenaikan harga pupuk meningkatkan biaya bagi petani.
IMF menjabarkan beberapa skenario tentang bagaimana perang tersebut dapat berdampak secara ekonomi. Kasus yang paling parah melibatkan gangguan terhadap pasar energi yang berlanjut hingga tahun depan. Skenario seperti itu akan menurunkan pertumbuhan global hingga 2 persen dan meningkatkan inflasi hingga 6 persen.
Risiko penurunan sangat besar,”
kata Gourinchas.
Bahkan skenario yang lebih optimis, di mana perang berakhir dengan cepat dan Selat Hormuz dibuka kembali, akan meninggalkan kehancuran ekonomi. IMF memperkirakan bahwa harga minyak akan meningkat sebesar 21,4 persen tahun ini dan harga komoditas energi, yang menurut IMF akan menurun pada tahun 2026, justru akan naik sebesar 19 persen tahun ini.

