Konsisten sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah,”
jelasnya.
Selain itu, Perry mengatakan bahwa BI ke depan juga siap menempuh penguatan yang lebih lanjut untuk menjaga rupiah dan inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap dalam sasaran target 2,5±1 persen.
Kebijakan makroprudensial terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit atau pembiayaan ke sektor riil dengan tetap mempertahankan stabilitas sistem keuangan,”
imbuhnya.
Jaga Stabilitas Rupiah
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan Bank Indonesia akan menahan BI Rate di level 4,75 persen. Hal ini karena fokus utama otoritas moneter adalah stabilitas rupiah.
BI diperkirakan kembali menahan suku bunga pada April dan selama tekanan eksternal belum mereda, akan sulit bagi BI untuk memangkas suku bunga. Meski pasar global pada awal pekan terlihat relatif tenang dan bursa saham utama masih bertahan, ketenangan itu belum cukup kuat untuk mengubah sikap BI,”
ujar Josua saat dihubungi Owrite.id Rabu, 22 April 2026.
Josua menjelaskan, ada tiga penyebab BI menahan suku bunga, alasan pertama karena kondisi eksternal. Kedua faktor inflasi energi, dan ketiga masih lemahnya kondisi domestik.
Ruang penurunan BI Rate pada 2026 praktis habis bila rata-rata harga minyak mencapai US$80 dan rupiah mendekati Rp17.000. Jadi, kenaikan BBM nonsubsidi sendiri belum otomatis memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi jelas membuat BI makin sulit untuk memangkasnya sekarang,”
jelasnya.