Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/kye)
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan, pelemahan rupiah memberikan dampak buruk bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Salah satunya, meningkatkan defisit APBN.
Dampak tersebut terjadi melalui berbagai cara atau transmisi misalnya meningkatnya rasio utang dan nilai cicilan bunga plus pokok utang, mengingat sekitar 30 persen utang Pemerintah adalah utang luar negeri. Peningkatan biaya bunga akan meningkatkan defisit,”
ujar Wijayanto saat dihubungi Owrite.id Senin, 4 Mei 2026.
Selain itu, dampak pelemahan rupiah ke APBN adalah menaikkan besaran subsidi energi. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang mengimpor minyak dan gas (migas).
Iklan
Meningkatkan nilai subsidi energi, mengingat kita importir minyak dan LPG dan keduanya ditransaksikan dalam USD. Apalagi harga energi dalam USD juga melejit, sehingga beban bagi APBN semakin berat,”
jelasnya.
Kemudian pelemahan rupiah akan meningkatkan potensi kerugian finansial. Kondisi ini akan menyebabkan beban utang ikut naik, dan Indonesia semakin sulit mencari pembeli surat utang.
Country risk kita meningkat, sehingga bunga utang naik dan semakin sulit mencari pembeli surat utang kita,”
terangnya.
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym)
Rupiah Semakin Tertekan
Wijayanto menjelaskan, rupiah akan semakin tertekan karena dua hal utama, pertama kondisi fiskal yang jauh dari solid. Kedua capital outflow baik akibat current account defisit, pelemahan Foreign Direct Investment (FDI), maupun outflow investasi portfolio.
Komunikasi pemerintah yang kurang terkoordinasi serta cenderung overpromised, overconfident dan oversimplify, ikut memperburuk keadaan,”
tegasnya.
Wijayanto memperkirakan, rupiah ke depan akan terus tertekan. Namun, tekanan akan berkurang saat Pemerintah berhasil meyakinkan investor dan dunia usaha.
Tekanan akan berkurang saat Pemerintah berhasil meyakinkan investor dan dunia usaha dengan kebijakan-kebijakan yang konkrit dan realistis guna menstabilkan fiskal dan memperbaiki current account,”
katanya.
Tabel Nilai Tukar Rupiah (USD/IDR) – April s.d. Mei 2026
Tanggal
Kurs Penutupan (Rp)
Perubahan
Keterangan
29 April 2026
Rp 17.289
—
Tren pelemahan mulai tajam
30 April 2026
Rp 17.346
Pelemahan 57 poin
Rekor terlemah di akhir April
1 Mei 2026
Rp 17.325
Penguatan tipis
Libur Hari Buruh (Pasar Terbatas)
4 Mei 2026 (Pagi)
Rp 17.341
Pelemahan 16 poin
Pembukaan pasar awal pekan
4 Mei 2026 (Sore)
Rp 17.394
Pelemahan 53 poin
Rekor terlemah sepanjang masa
APBN Diklaim Kuat
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa enggan berbicara lebih jauh mengenai ambruknya rupiah. Dia menyerahkan, hal tersebut ke Bank Indonesia (BI)
Namun yang pasti, Purbaya memastikan bahwa APBN tidak akan terpengaruh pelemahan rupiah. Hal ini karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah melakukan perhitungan secara cermat.
Waktu kita simulasi yang saya bilang itu, rupiahnya juga sudah kita level yang pas. Jadi, APBN-nya enggak terpengaruh, karena sudah kita hitung ke level sana. Jadi kita forward looking ngitung anggaran itu,”