Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 7 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Bhima: Jangan Senang Dulu, Ada Risiko Kurva Terbalik!
Ekonomi Bisnis

Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Bhima: Jangan Senang Dulu, Ada Risiko Kurva Terbalik!

owrite-adi-briantikadusep-malik
Last updated: Mei 8, 2026 10:49 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
3 bulan lalu
Share
SHARE

Rilis data pemerintah soal pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen dinilai berada di atas ekspektasi rata-rata pelaku pasar yakni 5,39 persen–5,48 persen dari proyeksi awal. 

Masifnya belanja APBN yang dilakukan pada awal tahun menjadi faktor peningkatan. Angka pertumbuhan tersebut digerakkan oleh faktor musiman yakni Idul Fitri dan tingginya konsumsi belanja oleh pemerintah pusat, bukan konsumsi rumah tangga. 

Kalau konsumsi belanja pemerintah naik terlalu tinggi, berarti ada APBN yang dihabiskan di depan (awal tahun). Hanya untuk mendorong pertumbuhan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan konstruksi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih,”

kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, kepada Owrite.id. 

Hal yang menjadi tantangan selanjutnya–ketika menghadapi kuartal II hingga kuartal IV–adalah apakah pertumbuhan bisa meningkat di atas 5 persen meski dorongan APBN berkurang? Sebab pertumbuhan karena faktor musiman berlaku saat masa Natal dan Tahun Baru yang terjadi Desember mendatang. 

Paket Bundling MBG Saat Libur Lebaran. (Sumber: Dok. Biro Hukum dan Humas BGN)
Paket Bundling MBG Saat Libur Lebaran. (Sumber: Dok. Biro Hukum dan Humas BGN)

Bhima menyorot beberapa hal yang membuat pertumbuhan kali ini mencapai 5,61 persen, antara lain:

1. Kualitas Lapangan Kerja dan Fenomena “Makan Tabungan”

Di balik tingginya angka pertumbuhan, Bhima berpendapat persentase pekerja sektor informal justru merangkak naik. Hal ini merupakan bentuk mode bertahan hidup masyarakat. Contohnya, menggunakan tabungan dan pekerjaannya informal atau merupakan korban PHK. Angka pertumbuhan terbilang tinggi, namun tidak mencerminkan kualitas. 

2. Anomali Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Pelemahan Rupiah

Tingginya pertumbuhan ekonomi kuartal ini dinilai bertolak belakang dengan IKK Bank Indonesia. Pada Maret, IKK menyentuh level 122,9 basis poin atau turun dibandingkan Januari yang mencapai 127 basis poin. Bhima juga menyorot nilai tukar Rupiah yang terperosok hingga mencapai Rp17.400 per dolar AS. Seharusnya pertumbuhan ekonomi yang solid, dapat memperkuat nilai tukar rupiah. 

Maka, ada yang tidak selaras antara klaim pertumbuhan ekonomi dengan kepercayaan terhadap kebijakan. 

Performa Rupiah bahkan kalah kuat dibandingkan Ringgit Malaysia, padahal sama-sama mendapat windfall sawit,”

ujar Bhima. 

3.Ketimpangan Wilayah dan Efektivitas Belanja

Hingga saat ini konsentrasi pertumbuhan masih terpusat di Pulau Jawa. Kondisi itu kontras karena pemerintah pusat menggenjot masif perbelanjaan, namun pemerintah daerah harus efisiensi anggaran. Rasio efektivitas alokasi belanja pemerintah saat ini juga jadi tanda tanya. 

Misalnya, dampak jangka panjang belanja infrastruktur seperti MBG yang terdapat masalah tata kelola dan food waste. Bhima berujar uangnya digenjot dari belanja pemerintah tapi rasio efektivitas dipertanyakan. 

Ilustrasi Pekerja di PHK. (Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev )
Ilustrasi Pekerja di PHK. (Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev )

Kurva Terbalik di Akhir Tahun

Bhima memprediksi laju di atas 5 persen memungkinkan dipertahankan pada kuartal kedua hingga Juni ini, karena dorongan belanja pusat masih tersisa. Namun, tantangan yang dihadapi pada semester kedua 2025 yaitu pemerintah bakal menghadapi risiko kebalikan tren.

Jika biasanya serapan anggaran memuncak pada akhir tahun, tapi cara pemerintah pusat “bakar uang” pada awal tahun ini akan menyebabkan kekurangan amunisi. Artinya, garis kurva diproyeksikan menurun hingga akhir 2026. 

Anggaran akan sangat terbatas. (Jika pemerintah) mencari utang dalam kondisi perang (Iran-AS saat ini) akan susah. Sangat mungkin (pertumbuhan hanya) di bawah 5 persen (pada kuartal III dan IV). Jadi jangan senang dulu dengan 5,6 persen di awal,”

terang Bhima.

Situasi makin berat dengan kepercayaan pasar menurun terhadap tata kelola fiskal, yang berdampak langsung pada biaya utang yang mesti ditanggung. 

Pembayaran bunga utang Indonesia tergolong lumayan tinggi. Bisa mencapai Rp1.400 triliun hanya untuk bunga dan pembayaran utang, sementara APBN hanya sekitar Rp2.000 triliun lebih. Itu merupakan risiko “bakar uang” awal tahun. 

Ekonomi RI Tumbuh 5,61% Tapi Rupiah Ambruk, Investor Mulai Tak Percaya Pemerintah?
Tag:APBNbelanja pemerintahfiskalHeadlineIndeks Keyakinan KonsumenPertumbuhan EkonomiRupiahutang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Asal Usul Lomba Makan Kerupuk, Tradisi Ikonik Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia
By Hilwa Urwatul Wutsqa
Lomba Makan Kerupuk saat Hari Kemerdekaan.
1
Aksi Mulia Numan Nomad: Jelajah Nusantara Sambil Bantu Mahasiswa Lulus Skripsi Tanpa Biaya
By Ossid Duha Jussas Salma
Numan Nomad
2
Dipecat karena Tilap Uang, Eks Bos Sekolah Swasta di Jaksel Tinggalkan ‘Gudang’ Bedil
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi ruangan eks ketua yayasan sekolah.
3
Ada AK-47 Hingga Narkoba: ‘Gudang Rahasia’ Mantan Ketua Yayasan Sekolah di Jaksel Terbongkar
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi ruang sekolah berisi senpi dan narkotika.
4
Dari Court ke Street, Sepatu Basket Berubah Jadi Statement Fashion
By Syifa Fauziah
Sepatu Basket
5

BERITA LAINNYA

Pramuniaga menunjukkan emas batangan
Ekonomi Bisnis

Harga Emas Hari Ini 7 Agustus 2026: Global Melejit 4,8 Persen, Antam Anjlok Rp29.000

Harga emas global masih bergerak stabil pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026.…

Syifa FauziahHardani Triyoga
By
Syifa Fauziah
Hardani Triyoga
2 jam lalu
Ilustrasi konflik di Selat Hormuz.
Ekonomi Bisnis

Iran Batasi Pelayaran di Selat Hormuz: Harga Minyak Brent Tembus US$83,50 per Barel

Harga minyak naik dunia lebih dari 1 persen pada perdagangan Jumat. Karena…

Nisa-OWRITEowrite-adi-briantika
By
Anisa Aulia
Adi Briantika
2 jam lalu
Papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

IHSG Dibuka Menguat ke 6.352, Investor Mulai Sumringah! Ada Sinyal Bakal Terbang Lagi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, 7…

Nisa-OWRITEHardani Triyoga
By
Anisa Aulia
Hardani Triyoga
2 jam lalu
Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta.
Ekonomi Bisnis

Rupiah Dibuka Loyo ke Level Rp17.935! Ancaman dari Timur Tengah Mulai Menghantui Pasar

Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Rupiah…

Nisa-OWRITEHardani Triyoga
By
Anisa Aulia
Hardani Triyoga
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up