Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen. Namun, pertumbuhan ini tidak sejalan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang tertekan hingga ke level Rp17.400 per dolar AS.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai kondisi tersebut mencerminkan bahwa investor tengah khawatir terhadap perekonomian RI.
Terkait rupiah melemah di saat pertumbuhan ekonomi meningkat saya melihat ada kekhawatiran investor terhadap ekonomi kita. Meskipun ekonomi tumbuh, investor (dan masyarakat luas) melihat sangat rapuh,”
ujar Huda kepada Owrite.id Rabu, 6 Mei 2026.
Huda mengatakan, dari sisi anggaran defisit tercatat melebar, utang naik, dan kepercayaan terhadap pemerintah jauh. Kondisi ini pun membuat investor kabur dari dalam negeri. Adapun defisit APBN per Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun, atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari sisi budget defisit melebar, utang juga naik, namun kepercayaan kepada pemerintah jatuh. Maka investor akan melepas rupiah dan lari ke USD,”
tuturnya.

Anomali Data: Pertumbuhan Tinggi Tak Sejalan Indikator Lapangan
Huda mengatakan, data pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 menjadi yang tertinggi sejak 2012, bahkan dua periode kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) ekonomi RI tidak mampu tumbuh mencapai 5,6 persen.
Pemerintah sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 2026 dengan angka yang sangat tinggi, 5,61 persen. Angka tersebut tertinggi semenjak tahun 2012 dan dua periode Jokowi pun tidak mampu mencapai 5,6 persen,”
tuturnya.
Namun, Huda mengatakan ada anomali kondisi terhadap hasil perhitungan pemerintah tersebut. Pertama, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di 5,52 persen pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama di 2025 yang hanya tumbuh 4,96 persen.
Padahal, bila dilihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) per Maret 2026, IKK turun menjadi 122,9 basis poin dibandingkan bulan Januari 2026 yang sebesar 127,0 basis poin. Begitu juga tahun lalu mengalami penurunan serupa meskipun lebih tajam.
Biasanya, IKK ini mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga, namun menurut data BPS, ternyata tidak,”
kata Huda.
Lebih menarik lagi katanya, pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya mengalami perlambatan dibandingkan kuartal I-2025. Seharusnya kata Huda, momen Ramadan-Lebaran bisa mendongkrak kinerja tersebut.
Sedangkan tahun lalu, tumbuh 6,86 persen tapi konsumsi rumah tangga jauh lebih lambat. Jadi ada anomali dalam perhitungan konsumsi rumah tangga yang dilakukan oleh BPS,”
tuturnya.

Sektor Transportasi hingga Investasi Dinilai Tak Sinkron
Anomali kedua terang Huda, konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan empat kuartal sebelumnya. Pada kuartal I-2026 konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh 6,91 persen, secara beruntun pertumbuhan konsumsi ini adalah 6,15 persen di kuartal I-2025, 6,48 persen di kuartal II, 6,41 persen kuartal III, dan 6,35 persen di kuartal IV.
Namun demikian, jasa transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 8,04 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang kuartal IV hanya tumbuh secara berurutan 9,01 persen, 8,52 persen, 8,62 persen, dan 8,98 persen.
Begitu pula dengan jasa informasi dan komunikasi yang mengalami perlambatan di periode yang sama. Anomali di sektor ini sangat terasa ketika konsumsi kita tidak ditopang oleh jasa terkait,”
tuturnya.
Anomali ketiga, dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pertumbuhan tertinggi berasal dari sub kendaraan. Sama seperti mesin pada tahun lalu yang dianggap sebagai penyumbang signifikan PMTB, kendaraan yang jadi penyumbang PMTB juga dihasilkan dari impor kendaraan.
PMTB sub kendaraan tercatat tumbuh sebesar 12,39 persen, namun di satu sisi pertumbuhan untuk industri alat angkutan terkontraksi hingga -5,02 persen.
Saya menduga angka PMTB kendaraan ini disumbang oleh impor kendaraan untuk keperluan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pada akhirnya, impor KDKMP ini jadi justifikasi PMTB kendaraan mengalami pertumbuhan yang luar biasa tinggi, tapi industrinya letoy,”
tuturnya.


