Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 22 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • Piala Dunia 2026
  • prabowo
  • MBG
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Efek Domino Kurs Rp17.500: Manufaktur Terjepit, Daya Beli Masyarakat Turun, dan Potensi PHK
Ekonomi Bisnis

Efek Domino Kurs Rp17.500: Manufaktur Terjepit, Daya Beli Masyarakat Turun, dan Potensi PHK

Nisa-OWRITEowrite-adi-briantika
Last updated: Mei 14, 2026 1:25 pm
By
Anisa Aulia
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro...
Follow:
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
2 bulan lalu
Share
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran.
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ( ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye)
SHARE

Nilai tukar rupiah telah kehilangan kekuatannya lebih dari 5 persen secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd). Dampak anjloknya rupiah juga telah menembus jantung perekonomian riil dan stabilitas ekonomi.

Daftar isi Konten
  • Intervensi Belum Efektif?
  • Perjalanan Nilai Tukar

Pada perdagangan Kamis pagi, 14 Mei 2026, nilai tukar rupiah masih melemah di level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) atau 0,14 persen.

“Pelemahan rupiah ke level 17.500 bukan sekadar angka di layar, dampaknya telah merembes ke jantung perekonomian riil. Sektor manufaktur yang sangat bergantung pada komponen impor menghadapi tekanan margin yang luar biasa,”

ujar Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita laporannya Kamis, 14 Mei 2026.

Di sektor manufaktur, Ronny mengatakan kombinasi kenaikan biaya energi global dan depresiasi rupiah telah memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi ekstrem, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK). Ancaman nyata bagi pekerja ini diperkirakan akan terus menghantui sepanjang 2026. 

“Ancaman PHK ini diprediksi akan terus membayangi sepanjang tahun 2026 jika stabilitas nilai tukar tidak segera tercapai.”

kata dia.

Penurunan daya beli masyarakat juga menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Meskipun inflasi resmi April 2026 tercatat rendah di 2,42 persen tetapi harga barang-barang impor (imported inflation) mulai merangkak naik, terutama pada produk elektronik, farmasi, dan pangan olahan. 

“Keyakinan konsumen berada pada titik terendah dalam lima bulan terakhir karena kekhawatiran akan kepastian pendapatan dan kenaikan biaya hidup,”

tutur Ronny.

Di sisi fiskal, Ronny mengatakan pelemahan rupiah menambah beban pembayaran bunga utang luar negeri dan subsidi energi. Setiap pelemahan Rp100 per dolar AS diperkirakan akan berdampak besar terhadap defisit Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Setiap pelemahan Rp100 per dolar AS secara rata-rata tahunan memiliki implikasi besar terhadap defisit APBN. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa ruang fiskal untuk stimulus ekonomi akan habis sebelum tahun berakhir, terutama dengan beban belanja negara yang sudah sangat berat untuk membiayai program-program strategis pemerintah baru,”

jelas Ronny.

Intervensi Belum Efektif?

Ronny menyebut kritik tajam sering diarahkan kepada Bank Indonesia (BI) atas kegagalan mencegah rupiah menembus level 17.500. BI sebenarnya tidak tinggal diam karena ada tujuh langkah strategis untuk stabilisasi nilai tukar. 

Namun, hasil dari berbagai kebijakan ini dinilai kurang bertenaga, lantaran terdapat beberapa kendala struktural dan taktis yang dihadapi otoritas moneter. 

Pertama, BI terjebak dalam ‘impossible trinity‘ yakni bank sentral tidak bisa secara bersamaan mengontrol nilai tukar, memiliki kebijakan moneter independen, dan mobilitas modal bebas. 

“Di tengah arus modal keluar yang masif, upaya menjaga suku bunga rendah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik menjadi kontradiktif, dengan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga guna menjaga daya tarik rupiah terhadap dolar AS yang memiliki yield tinggi,”

kata dia.

Kedua, penyusutan cadangan devisa memberikan sinyal negarif kepada investor. Meskipun BI mengklaim cadangan devisa memadai di level US$146,2 miliar per April 2026, angka ini terus menurun dari posisi sebelumnya yakni US$148,2 miliar pada Maret 2026. 

Penurunan ini sebagian besar digunakan untuk pembayaran utang luar negeri dan biaya intervensi pasar yang sangat mahal. 

“Tren penyusutan selama empat bulan berturut-turut telah memberikan sinyal negatif kepada pasar mengenai kemampuan BI untuk terus melakukan intervensi jangka panjang,”

terang dia.

Ketiga, muncul narasi kritis otoritas moneter cenderung mengabaikan realitas pasar yang memburuk (denial) dan lebih fokus pada retorika stabilitas yang tidak didukung oleh data fundamental. 

“Kegagalan dalam mengantisipasi kecepatan perubahan sentimen global, terutama dampak konflik Selat Hormuz terhadap harga minyak, membuat respons kebijakan BI seringkali bersifat reaktif bukan proaktif,”

tutur Ronny.

Keempat ,keterbatasan pasokan valas domestik, meskipun Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, nilai surplus tersebut menyusut tajam karena pertumbuhan impor yang jauh melampaui ekspor. Akibatnya, pasokan valas dari sektor riil tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan dari sektor korporasi yang perlu membayar utang dan dividen, serta kebutuhan impor energi.

Perjalanan Nilai Tukar

Ronny menjelaskan perjalanan rupiah menuju level Rp 17.500 dimulai dari tren pelemahan yang konsisten sejak akhir tahun 2025. Sepanjang tahun 2025, nilai tukar bergerak di kisaran rata-rata Rp16.475 per dolar AS, namun tekanan mulai mengakselerasi menjelang penutupan tahun. 

Memasuki awal 2026, rupiah mulai menunjukkan kerapuhan yang signifikan terhadap sentimen global. Pada Januari 2026, nilai tukar telah berada di level Rp16.860, lalu rupiah tembus level Rp17.000 pada awal April 2026 menjadi sinyal awal bagi pasar bahwa intervensi BI mulai menemui titik jenuh. 

Meskipun sempat terjadi penguatan teknis selama beberapa hari pada awal Mei, sentimen negatif kembali mendominasi pasar, hingga mencatatkan pelemahan terdalam di level Rp17.425 pada 5 Mei 2026, sebelum akhirnya menyerah pada tekanan pasar dan menembus Rp17.505 pada 12 Mei 2026.

“Secara tahun kalender berjalan rupiah telah kehilangan lebih dari 5 persen nilainya, sebuah angka yang mencerminkan hilangnya kepercayaan pasar terhadap aset-aset berdenominasi rupiah dalam jangka pendek,”

ucap Ronny.

Tag:APBNBank IndonesiaDaya BelifiskalHeadlinemarginNilai TukarPelemahan RupiahPHKRupiahutang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro serta berbagai kebijakan ekonomi yang memengaruhi dunia usaha dan perekonomian Indonesia.
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Trending di OWRITE
Mundur dari Kepala BGN, Posisi Nanik di Pertamina Masih Aman Jabat Komisaris
By Natania Longdong
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang.
1
Nanik S Deyang Resmi Mundur dari Kepala BGN
By Rahmat Baihaqi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang (tengah) berjalan saat tiba untuk melakukan audiensi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
2
Usai Mundur, Nanik Klaim Prabowo Bakal Siapkan Kursi Ketua Dewan Pengawas BGN
By Natania Longdong
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang menyapa wartawan sebelum konferensi pers di Kantor Pusat BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
3
Eks Kepala BGN Nanik S Deyang Tangkis Tuduhan MBG Alat Politik 2029: Anak SD Belum Bisa Nyoblos!
By Rahmat Baihaqi
Siswa menunjukan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 002 Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur, Senin (20/7/2026).
4
Tegas! Komisi IX DPR Minta Pengganti Kepala BGN Harus Profesional, Jangan Titipan Politik
By Rahmat Tunny
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
5

BERITA LAINNYA

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi RI.
Ekonomi Bisnis

Singapura dan Dubai Unggul Jauh, Ini Tantangan Berat RI Jadi Pusat Keuangan Global

Pengesahan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) diharapkan jadi pintu masuk Indonesia…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
1 jam lalu
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Tol Trans Jawa ruas Srondol-Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah
Ekonomi Bisnis

Disahkan Kilat, UU PFII Belum Bisa Jamin RI Siap Saingi Singapura dan Dubai

Pengesahan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dalam waktu singkat dinilai tak…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
3 jam lalu
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengamati hilal menggunakan teleskop saat pelaksanaan rukyatul hilal di Rusun ASN 1 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) di IKN, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (17/2/2026).
Ekonomi Bisnis

Basuki vs Dody Hanggodo, Adu Kinerja dan Anggaran Kementerian PU: Siapa Lebih Moncer?

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat ini tengah disorot publik karena…

Nisa-OWRITEHardani Triyoga
By
Anisa Aulia
Hardani Triyoga
3 jam lalu
Penampakan Menteri PU Dody Hanggodo saat turun dari Private Jet. (Sumber: Istimewa)
Ekonomi Bisnis

Dody Bantah Naik Jet Pribadi Saat Kunjungan Kerja: Itu Pesawat Kementerian Perhubungan

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo membantah tudingan menggunakan jet pribadi saat melakukan…

iren natania longdongdusep-malik
By
Natania Longdong
Dusep Malik
4 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up